Indonesia dinyatakan darurat sampah plastik. Tak hanya itu, negeri ini juga dinyatakan sebagai produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Tim ilmuwan dari Lem­baga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahkan memperkirakan pada 2050 mendatang jumlah limbah plastik akan melebihi jumlah ikan di perairan Indonesia. Ini diperkuat dengan ditemukannya mikroplastik dalam tubuh ikan dalam sebuah penelitian yang diselenggarakan di 13 titik perairan di Indonesia. Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin kelak manusia akan memakan limbah plastiknya sendiri.

Kondisi ini menggugah keprihatinan Direktur PT Marimas Putera Kencana Harjanto Halim. Sebagai seorang pelaku usaha di bidang industri pangan, Harjanto mengakui kesulitan menggantikan plastik dengan kemasan ramah lingkungan. Menurutnya, sejauh ini belum ada produk substitusi plastik yang mampu melindungi produk dengan aman sampai ke tangan konsumen.
“Plastik jenis edible dan biodegradable kurang maksimal untuk kemasan pangan,” ujarnya.

Meski demikian, bukan berarti Harjanto tak berbuat apa pun. Sebaliknya, melalui program Marimas Ecobricks, Harjanto menggaungkan gerakan pembuatan ecobricks di berbagai lapisan masyarakat.

“Ecobricks”

Ecobricks, yang dicetuskan oleh pria asal Kanada, Russell Maier, merupakan upaya mendaur ulang sampah plastik dengan cara “memenjarakan” material yang sulit terurai, seperti plastik, styrofoam, dan puntung rokok di dalam bekas botol air minuman sekali pakai.

Ecobricks disebut sebagai proses daur ulang plastik yang bersifat permanen dan dapat bertahan hingga ribuan tahun. Ecobricks juga diklaim tidak menimbulkan sampah baru dan masalah kesehatan lainnya. Ini berbeda dengan plastik hasil daur ulang konvensional yang disebut Harjanto justru menghasilkan sampah baru dan berpotensi mengganggu kesehatan.

“Proses daur ulang plastik konvensional tidak bisa menghasilkan produk yang sama kualitasnya dengan produk sebelum didaur ulang malah menurunkan grade plastik itu. Ketika plastik hasil daur ulang ini rusak, pada akhirnya akan bermuara juga di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, plastik hasil daur ulang tidak bisa lagi didaur ulang sehingga tetap akan meninggalkan masalah. Kalau dibakar, justru akan menimbulkan gas dioksin yang membahayakan kesehatan. Sedangkan pada ecobricks, sebisa mungkin sampah plastik dilokalisasi di hulu supaya jangan sampai bermuara ke hilir (TPA),” terangnya.

Harjanto mengatakan, membuat ecobricks sangat mudah dan tidak membutuhkan keterampilan khusus. Hanya saja limbah plastik harus dibersihkan dari kotoran dan sisa makanan sebelum dijejalkan ke dalam botol. Hal ini bertujuan agar sisa makanan, khususnya gula, tidak berfermentasi dalam botol dan menimbulkan gas beraroma tidak sedap.

Plastik yang sudah dibersihkan dan dikeringkan lalu dipotong kecil-kecil sebelum dimasukkan ke botol. Agar tidak ada rongga udara dalam botol, sampah plastik dipadatkan menggunakan alat bantu berupa stik kayu. Ecobricks harus padat sampah plastik agar nantinya tidak penyok saat digunakan.

“Idealnya standar berat ecobricks adalah 200 gram untuk botol ukuran 600 mililiter (ml) dan 500 gram untuk kemasan 1.500 ml.”

Botol yang telah berisi sampah plastik ini kemudian disusun menjadi benda fungsional, seperti meja, bangku taman, pagar, bahkan dinding rumah. Merekatkan ecobricks dapat menggunakan lem. Jika dibuat dengan teknik yang tepat, ecobricks dapat digunakan berulang kali dan bertahan hingga ribuan tahun.

Marimas Ecobricks

Marimas Ecobricks merupakan bentuk corporate social responsibility (CSR) PT Marimas Putera Kencana dalam menangani limbah plastik. Sebelum meluncurkan program ini, PT Marimas Putera Kencana mengundang Russell Maier untuk memberikan training of trainer (ToT) cara membuat ecobricks kepada karyawan PT Marimas. Saat ini, PT Marimas Putera Kencana memiliki 44 karyawan sekaligus trainer ecobricks bersertifikat GEA.

Sebagai wujud keseriusannya, PT Marimas Putera Kencana mendirikan Marimas Ecobricks Centre (MEC) di kantor pusat PT Marimas Putera Kencana, di Jalan Candi 1 Blok D 20 Kawasan Industri Candi, Jalan Gatot Subroto, Kota Semarang, dan di kantor cabang distribusinya. Harapannya, gerakan ecobricks semakin mewabah di tengah masyarakat.

Sejak 2018 hingga saat ini, Marimas Ecobricks telah melatih 5.106 pegiat lingkungan di berbagai daerah di Indonesia dan mengelola 2,1 ton sampah plastik menjadi 8.177 botol ecobricks.

1.000 laptop

Demi semakin menggaungkan gerakan pembuatan ecobricks di tengah masyarakat, Marimas Ecobricks meluncurkan program Marimas Ecobricks Gratis 1.000 Laptop. Melalui program ini, PT Marimas Putera Kencana ingin menyasar dunia pendidikan mulai dari jenjang SD, SMP, SMA/K sederajat agar makin peduli pada lingkungan.

Program ini didukung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, PGRI Jateng, PW Nahdlatul Ulama, PW Muhammadiyah, Kwarda Jateng, MUI, dan Global Ecobrick Alliance.

Program ini dibuka pada periode Maret–Desember 2019 dan hanya dapat diikuti per sekolah. Untuk mengikuti, perwakilan sekolah harus mendaftar­kan sekolahnya melalui laman situs
www.marimasecobricks.com. Sekolah yang telah terdaftar akan diundang untuk mengikuti pelatihan pembuatan ecobricks sekaligus factory visit di Marimas Ecobricks Centre.

Sekolah juga bisa mengikuti pelatihan pembuatan ecobricks secara daring melalui Youtube Channel Marimas Ecobrics. Setelah mengikuti pelatihan, sekolah memiliki waktu tiga bulan untuk membuat 100 botol ecobricks. Sekolah yang berhasil menyelesaikan pembuatan ecobricks berhak mendapatkan laptop dari Marimas Ecobricks.

Harjanto berharap program ini dapat mengedukasi masyarakat tentang bahaya limbah plastik dan cara mengatasinya. Dia berharap, sekolah nantinya menjadikan ecobricks sebagai kegiatan berkelanjutan di sekolah meski tidak ada insentifnya.

“Yang utama, kami berharap ada perubahan habit masyarakat dalam menggunakan plastik. Kalau merasa membuat ecobricks itu ribet, semoga mereka jadi sadar untuk membatasi penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai. Selain itu, membiasakan diri membawa kantong belanja untuk meminimalkan penggunaan plastik. Mungkin kita tidak bisa tanpa plastik sama sekali, tapi minimal kita bisa mengelola sampah kita sendiri dengan cara membuat ecobricks.” [LAU]

Foto-foto: dokumen Marimas.