Sejumlah 18 pemain terbaik hasil penjaringan Liga Kompas Kacang Garuda (LKG) U-14 dilepas dalam acara bertajuk Meet The World. Anak-anak berusia 14 tahun yang tergabung dalam Tim LKG-SKF Indonesia akan bertanding dalam kompetisi Piala Gothia 2019 pada 14–20 Juli mendatang di Gothenburg, Swedia. Meet The World diselenggarakan Harian Kompas bersama SKF Indonesia di The Lodge at Jagorawi Golf and Country Club, Bogor, Minggu (30/6/2019).

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Tri Agung Kristanto berujar, kerja sama Harian Kompas dengan SKF untuk gelaran Piala Gothia sudah berjalan selama sembilan tahun. Pada keikutsertaannya selama sembilan tahun itu pula Tim LKG-SKF Indonesia selalu lolos dari babak penyisihan grup. Bahkan, Tim LKG-SKF Indonesia mampu menorehkan prestasi sebagai peringkat kedua pada 2013 dan ketiga pada 2012 serta 2018.

Kompas percaya dengan melakukan pembinaan sedini mungkin, kita akan bisa melahirkan para pemain sepak bola yang baik dan akan membawa nama baik Indonesia ke kancah internasional,” kata Tri.

Sementara itu, President Director SKF Indonesia Shyam Datye mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua anak yang telah mendukung perjuangan anaknya hingga kelak akan berkompetisi di Piala Gothia. Ia juga berpesan kepada pemain Tim LKG-SKF Indonesia, juara bukanlah hal utama yang harus diraih, melainkan menimba pengalaman dan belajar tentang berbagai kebudayaan dari seluruh dunia.

Ia menambahkan, sekitar 1.700 tim dari seluruh dunia ikut berpartisipasi dalam kompetisi yang melahirkan pemain sepak bola dunia di antaranya Zlatan Ibrahimovic dan Xabi Alonso ini. “Untuk anak-anak muda khususnya pemain Indonesia, ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk belajar, dari belajar ilmu sepak bola dari pemain hampir dari seluruh dunia hingga belajar mengenal budaya baru,” ucap Datye.

Sepak bola dan sekolah harus sejajar

Rangkaian acara Meet The World juga diisi oleh sesi motivasi yang disampaikan mantan pelatih yang kini menjadi analis sepak bola Timo Scheunemann. Ia berbagi tips agar peluang kesuksesan terbuka lebar, termasuk menjadi pemain sepak bola profesional. Antara lain mengetahui tujuan, bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan, dan tidak cepat menyerah di tengah jalan.

Asupan gizi pemain yang baik juga tak luput jadi perhatiannya. Gaya hidup sehat ala atlet seperti memperbanyak mengonsumsi nasi merah untuk optimalisasi tenaga, menghindari konsumsi mi instan, dan menjaga pola tidur sehat menjadi syarat wajib menjadi pemain sepak bola yang baik. Selain itu, menambah porsi latihan di rumah menjadi syarat lainnya guna menambah jam terbang bermain sepak bola.

FOTO-FOTO: DOK. EVENT/KOMPAS

Ia juga berujar, pengembangan bakat sepak bola dengan disiplin belajar di sekolah harus seimbang. Sering kali, anak-anak hanya mementingkan bagaimana agar bakatnya terus terasah dan berkembang lalu meninggalkan kewajibannya belajar di sekolah. Tambahnya, disiplin belajar juga membantu kecekatan berpikir saat bermain sepak bola di lapangan sehingga harus juga diasah.

Pentingnya sekolah juga ditekankan oleh Timo karena menjadi pesepak bola dikelilingi banyak risiko, seperti cedera yang bisa saja menghentikan karier sepak bola dan usia bermain yang tentunya tidak panjang. Dengan mengembangkan ilmu melalui sekolah, diharapkan anak-anak akan memiliki banyak kesempatan untuk terus sukses di luar bermain sepak bola.

“Siapa bilang hanya harus mengembangkan bakat, tetap juga harus mengembangkan sekolah. Jangan dilupakan itu. Pengembangan bakat dan sekolah itu sejajar. Intinya orangtua harus mendukung sekolah dan bakatnya terus sejajar,” beber laki-laki berkebangsaan Jerman yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Kemenangan di laga persahabatan

Meet The World juga dimeriahkan oleh pertandingan antara karyawan Harian Kompas melawan karyawan SKF Indonesia. Tidak lupa juga pertandingan persahabatan antara Tim LKG-SKF Indonesia melawan SSB Intan Soccer Cipta Cendekia. Tim LKG-SKF Indonesia memenangkan pertandingan dengan skor 7-0.

Pelatih Tim LKG-SKF Indonesia Jumhari Saleh membeberkan, kekurangan yang terlihat pada pertandingan persahabatan tadi ialah seringnya lepas kontrol. Sementara itu, kelebihan yang ditunjukkan antara lain kekompakan yang sudah mulai terbentuk dan keberanian mengambil risiko. Selanjutnya, Tim LKG-SKF Indonesia akan menjalankan pemusatan latihan pada 4–7 Juli 2019 di Maleber, Jawa Barat.

Kapten Tim LKG-SKF Indonesia Tegar Andrie Shevanton menyoroti kondisi mental dan perbedaan fisik dengan pemain-pemain luar negeri yang dinilai lebih baik. Oleh karena itu, pemain yang berposisi sebagai bek tengah itu meminta rekan-rekannya untuk terus menambah porsi latihan guna memaksimalkan persiapan menjelang bertanding di Piala Gothia 2019 nanti.

Tegar berucap, perjalanan selama LKG U-14 hingga kini berada di Tim LKG-SKF Indonesia memberikannya banyak ilmu dan pengalaman, seperti pentingnya persahabatan serta menjalin kekeluargaan. “Bagus, menyatukan kita semua biar terus terbentuk kekeluargaannya,” ujar Tegar saat ditanya perihal apa yang ia dapat dari Meet The World.

Sejak 2010, Harian Kompas bersama SKF Indonesia menggelar liga sepak bola bagi anak-anak berusia 14 tahun guna mewujudkan mimpi mereka menjadi pemain sepak bola. Pada musim 2018/2019, LKG U-14 menekankan nilai edukasi, nasionalisme, dan pengalaman kepada para pesertanya.

Edukasi dibuat dalam bentuk pendidikan seperti profesionalitas pemain, manajemen asupan gizi, hingga pengaturan sikap para suporter juga pelatih. Nasionalisme terbentuk dari perjuangan lulusan terbaiknya dalam membela nama Indonesia di ajang internasional seperti Piala Gothia dan diharapkan bagi gelaran lainnya kelak bersama tim nasional Indonesia. Sementara itu, LKG U-14 ingin memberikan pengalaman bagi pesertanya untuk merasakan semangat berkompetisi, belajar menerima kekalahan, memiliki mental juara, dan lain-lain.

LKG U-14 Musim 2018/2019 terselenggara berkat dukungan dari Kacang Garuda. [*]