Telkom Indonesia

Launch Vehicle Ariane 5 VA 235 saat mulai meluncur membawa Satelit Telkom 3S dari Guiana Space Center, Kourou, Guyana Perancis, Selasa (14/2).

Gagasan memiliki satelit komunikasi pada 1960-an oleh sebagian kalangan masyarakat dinilai sebagai gagasan kontroversial atau proyek mercusuar pemerintah. Namun, kalangan akademisi dan pelaku telekomunikasi nasional menganggap satelit telekomunikasi merupakan alternatif strategis dalam pembangunan telekomunikasi nasional.

Wacana untuk memiliki dan mengimplementasikan satelit komunikasi kerap dikemukakan di berbagai forum, baik oleh kalangan akademisi, pemerintahan, maupun Perumtel (nama Telkom pada waktu itu). Di sisi lain, sejumlah pihak tidak setuju satelit atau dahulunya disebut Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) diaplikasikan di Indonesia karena teknologi satelit saat itu tergolong baru dan dianggap barang mewah.

Namun, keberadaan SKSD bagi negara kepulauan seperti Indonesia tidak hanya bermakna untuk memperlancar komunikasi satelit. Ini juga dipandang dapat menjadi sarana pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk, meningkatkan kecerdasan bangsa melalui kemudahan akses informasi global, mengantisipasi ancaman dan gangguan, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Pada awal April 1974, pemerintah mengumumkan rencana pembangunan SKSD di media massa. Rencana itu berujung pada keputusan untuk memiliki dan meluncurkan satelit pertama Indonesia, Palapa A1. Keberhasilan peluncuran Satelit Palapa A1 tersebut sekaligus menandai dimulainya era persatelitan Indonesia.

Hingga 2015, Telkom telah meluncurkan 10 satelit, yaitu satelit Palapa A1, Palapa A2, Palapa B1, Palapa B2, Palapa B2P, Palapa B2R, Palapa B4, Telkom 1, Telkom 2, dan Telkom 3. Dari 10 kali peluncuran satelit tersebut, terdapat 2 kali kegagalan, yaitu saat peluncuran satelit Palapa B2 pada 1984 dan Satelit Telkom 3 pada 2012.

Dari Palapa A1 hingga Telkom 3S

Pada 8 Juli 1976 pukul 19.31 waktu Florida, Amerika Serikat, atau bertepatan dengan 9 Juli 1976 pukul 06.31 WIB merupakan momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan diluncurkannya satelit komunikasi Palapa A1 milik Indonesia dari Cape Canaveral Kennedy Space Centre Florida. Roket peluncur yang digunakan adalah Delta 2914 buatan McDonnal Douglas dan ditempatkan pada orbit geostationer di posisi 83 derajat bujur timur (BT). Satelit tersebut berfungsi sejak 16 Agustus 1976.

Selanjutnya, Satelit Palapa A2 diluncurkan pada 10 Maret 1977 waktu Florida atau 11 Maret 1977 pukul 06.16 WIB. Satelit Palapa A1 dan A2 memiliki 12 transponder aktif yang masing-masing dapat melayani 400 sirkit atau 800 saluran telepon, atau 1 saluran televisi dengan sinyal analog. Satelit Palapa generasi A berbentuk silinder dengan diameter 2,16 meter dan tinggi 2,84 meter. Memiliki umur desain selama 7 tahun. Masa akhir operasi (design life) Palapa A1 pada 1983 dan Palapa A2 pada 1984.

Telkom Indonesia

Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga saat pidato sebelum peluncuran Satelit Telkom 3S di Jupiter Control Room, Guiana Space Center, Selasa (14/2).

Dari pengalaman di lapangan ditemukan bahwa kapasitas transponder perlu ditingkatkan karena selain untuk keperluan domestik, beberapa negara tetangga berkeinginan menyewa. Oleh karena itu, ditetapkanlah pengadaan satelit generasi Palapa B yang memiliki kapasitas 24 transponder aktif dengan umur yang lebih panjang. Satelit Palapa B1, B2P, dan B2R selama 8 tahun, sedangkan Palapa B4 selama 12 tahun.

Palapa B1 merupakan satelit jenis HS-376 yang diangkut menuju orbit geostationer 108 derajat BT pada 18 Juni 1983 pukul 18.33 WIB. Palapa B1 diluncurkan pesawat ulang-alik Columbia STS-7 dalam penerbangan ketujuh yang menjadi penerbangan komersial ketiga.

Peluncuran Palapa B2 pada 26 Februari 1984 dengan pesawat ulang alik STS-11S mengalami kegagalan karena motor perigee-nya tidak berfungsi baik sehingga tidak bisa mencapai orbit geosinkron/geostasioner dan terjebak dalam orbit rendah (parking orbit). Perumtel kemudian memesan Palapa B2P ke perusahaan yang sama, yaitu Hughes Aircraft Company. Huruf “P” di belakang adalah singkatan “Pengganti”. B2P diluncurkan pada 21 Maret 1987 pukul 06.18 WIB dengan roket Delta 6925 dari Cape Canaveral Florida dan kemudian menempati slot orbit 113 derajat BT.

Sementara itu, setelah terkatung-katung selama 8 bulan, pada November 1984, Palapa B2 bisa ditarik oleh pesawat ulang-alik Discovery yang membawanya kembali ke Bumi. Palapa B2 tersebut kemudian menjadi milik perusahaan konsorsium asuransi AS.

Untuk menyiapkan pengganti Palapa B1 yang telah berkurang usia operasinya, Palapa B2 dibeli kembali oleh Indonesia dan diberi nama Palapa B2R yang kemudian diluncurkan menggunakan roket Delta II pada 14 April 1990. Palapa B2R ini ditempatkan pada slot orbit 108 derajat BT. Huruf “R” di belakang B2 merupakan singkatan “Recovery”. Untuk menggantikan Palapa B1 yang akan habis masa operasinya di 118 derajat BT, Telkom memutuskan membeli Palapa B4, yang kemudian diluncurkan pada 14 Mei 1992 (waktu Indonesia) dari Cape Canaveral Florida AS dengan menggunakan roket Delta 7925.

Selanjutnya, dimulailah era satelit menggunakan nama “Telkom”. Satelit Telkom 1 merupakan kelanjutan dari generasi Palapa B karena pengelolaan generasi Palapa C diserahkan ke PT Satelindo. Hal ini menjadikan Telkom hanya mengoperasikan dua satelit generasi B, yakni Palapa B2R dan Palapa B4. Total kapasitas transponder kedua satelit tersebut adalah 48 transponder.

Peluncuran Telkom 1 bertujuan menggantikan Palapa B2R yang sudah habis masa operasionalnya, dan ditempatkan pada slot orbit 10 derajat BT. Telkom-1 memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan Palapa generasi B, yaitu 36 transponder aktif terdiri atas 24 transponder standar C-band dan 12 transponder extended C-band. Design life satelit Telkom-1 juga lebih lama, mencapai 15 tahun.

Peluncuran Telkom 2 bertujuan menggantikan Palapa B4 yang sudah habis masa operasionalnya, dan akan ditempatkan pada slot orbit 118 derajat BT. Telkom-2 memiliki kapasitas yang sama dengan Palapa B4, yaitu 24 transponder aktif, yang semuanya merupakan transponder standar C-band. Design life satelit Telkom-2 15 tahun.

Satelit Telkom 3S

Telkom juga sukses meluncurkan satelit Telkom 3S pada Februari 2017. Gelegar dahsyat atau sonic boom dari roket Ariane 5 yang bergerak menembus langit Guiana Space Center pada Selasa (14/2) pukul 18.39 waktu setempat atau Rabu (15/2) pukul 04.39 WIB menandai dimulainya perjalanan tugas mulia Satelit Telkom 3S yang akan mengudara menuju orbitnya.

Telkom 3S akan menempati slot orbit pada 118 derajat BT atau diperkirakan memiliki posisi di atas Selat Makassar. Dengan posisi ini, Telkom 3S mampu mencakup seluruh wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Timur. Satelit Telkom 3S akan melengkapi dua satelit Telkom lainnya yang masih beroperasi yaitu Telkom-1 dan Telkom-2.

“Keberadaan ketiga satelit milik Telkom ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap satelit asing sehingga kebutuhan satelit akan disuplai dari kita sendiri” ungkap Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga yang memantau langsung proses peluncuran di Jupiter Control Room Guiana Space Center, Kourou, Guyana Perancis, Selasa (14/2).

Satelit Telkom 3S dirancang untuk memenuhi meningkatnya permintaan peralatan transmisi dalam pengembangan layanan bisnis satelit Indonesia, mengingat Indonesia membutuhkan satelit sebagai backbone selain serat optik. Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan geografi yang unik, terdiri atas ribuan pulau dan pegunungan yang sulit dijangkau sistem komunikasi terrestrial maupun serat optik. Karenanya, sistem komunikasi satelit merupakan solusi tepat yang dapat menjangkau area terdepan, terluar, dan terpencil (3T) sehingga diharapkan mampu meniadakan kesenjangan telekomunikasi dan informatika di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan nilai investasi mencapai 215 juta dolar AS mencakup biaya pembuatan satelit, jasa peluncuran dan asuransi, Satelit Telkom 3S memiliki kapasitas total transponder sebanyak 42 transponder atau setara 49 Transponder Equivalent (TPE), yang terdiri atas 24 transponder C-band (24 TPE), 8 transponder extended C-band (12 TPE), dan 10 transponder Ku-band (13 TPE) yang tidak dimiliki oleh satelit Telkom sebelumnya. Kelebihan dari transponder Ku-Band ini, mampu memberikan layanan dengan bit-rate lebih tinggi sehingga menghasilkan kualitas komunikasi yang lebih baik untuk melayani siaran televisi berkualitas tinggi (high-definition television), layanan komunikasi seluler, serta broadband internet.

Keberadaan Telkom 3S diharapkan mampu mendorong terwujudnya program Nawacita pemerintah poin pertama, melindungi warga negara melalui keamanan nasional dan pembangunan pertahanan serta memperkuat jati diri sebagai negara maritim. Selain itu, satelit ini juga diharapkan dapat membantu pemerintah merealisasikan Nawacita poin ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dan memperkuat berbagai daerah dalam kerangka negara kesatuan. [*]