Tidak berlebihan menyebut tambang Grasberg di Mimika, Papua, yang dioperasikan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai tambang kelas dunia. Inilah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga terbesar ketiga di dunia.

Meski pada 2019 ini tambang terbuka Grasberg akan berhenti berproduksi seiring habisnya cadangan bijih. Namun, Grasberg tetap menjadi gunung harta karun, karena di dalamnya masih terdapat cadangan mineral berharga yang amat besar. Berikutnya, penambangan bawah tanah akan menjadi fokus utama PTFI sebagai pengganti penambangan terbuka.

Executive Vice President Site Operation PTFI Zulkifli Lambali

Menurut Executive Vice President Site Operation PTFI yang juga Kepala Teknik Tambang Zulkifli Lambali, beberapa tahun terakhir baru sekitar 30 persen bijih dipasok oleh tambang bawah tanah. Transisi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah diharapkan berlangsung hingga 2–3 tahun ke depan. Hingga nanti seluruh tambang bawah tanah, mulai dari Deep Mill Level Zone (DMLZ), Grasberg Block Cave (GBC), Big Gossan, maupun Deep Ore Zone (DOZ) dapat berfungsi dengan baik dan memproduksi sesuai kapasitas pabrik pengolahan (mill).

Kondisi alam Grasberg yang amat ekstrem, berada pada ketinggian 4.200 meter di atas permukaan laut, lokasinya terpencil, serta wilayah operasi yang sangat luas hingga ke portsite, menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi mengingat keberagaman karyawan, dengan tingkat pendidikan, asal-usul karyawan yang beragam dari lokal hingga,  dengan kultur yang berbeda-beda. “Tantangan saya adalah memastikan seluruh sumber daya, baik karyawan maupun sumber daya lainnya dapat berfungsi maksimal,” tutur Zulkifli.

Anak bangsa

Menggunakan metode tambang block caving, operasi tambang bawah tanah PTFI membutuhkan modal besar dan teknologi tinggi. Tak ketinggalan tentunya melibatkan sumber daya manusia yang andal. Yang membanggakan, ternyata cukup banyak putra-putra terbaik Indonesia di bidang tambang yang berkiprah dan menduduki posisi penting di PTFI.

Seperti Zulkifli, sebagai Executive Vice President Site Operation ia bertanggung jawab terhadap aspek keselamatan, lingkungan, dan operasional tambang. Untuk operasional tambang, tentunya ia harus memastikan operasi berjalan sesuai good mining practice. Sementara untuk aspek lingkungan, harus sesuai aturan dan standar yang berlaku, baik di Indonesia maupun secara internasional. Sedangkan untuk keselamatan, salah satu fokus yang menjadi perhatian PTFI adalah program fatality risk management (FRM), yaitu memastikan tidak ada kecelakaan fatal akibat kegiatan penambangan.

Vice President Occupational Health & Safety (OHS) PTFI Henky Rumbino

Tidak mudah untuk mengelola risiko keselamatan tersebut, apalagi jika kontrolnya masih tergantung orang. Seperti dituturkan Vice President Occupational Health & Safety (OHS) PTFI Henky Rumbino, pihaknya mengidentifikasi dan menganalisis semua bahaya dan resiko yang mungkin terjadi lalu menentukan dan menerapkan kontrol yang efektif dengan titik berat pada aspek engineering kontrol, subtitusi, dan eliminasi dibanding bergantung hanya pada policy dan prosedur. Kontrol tersebut dikelola, dikampanyekan, dipantau, dan secara rutin diaudit. Sosialisasi dan edukasi dilakukan untuk memastikan karyawan bekerja aman dengan zero fatality.

Terlebih pada tambang bawah tanah yang memiliki area operasi yang sempit serta jarak pandang dan pergerakan terbatas. Sementara itu, sebagian cadangan basah sehingga berisiko tertimbun lumpur basah. “Kalau tertimbun, pasti fatal,” ujar Henky.

Maka, salah satu tantangan tambang bawah tanah adalah memaksimalkan produksi sama dengan tambang permukaan tetapi dilakukan dengan aman. Untuk itu, ungkap Henky, pihaknya menerapkan kontrol yang membuat orang tidak terpapar langsung dengan bahaya. Salah satunya dengan cara mengubah peralatan produksi yang semula dioperasikan secara manual kini secara remote (jarak jauh).

Selama 16 tahun berkarya di PTFI, 15 tahun di antaranya dihabiskan Henky di tambang bawah tanah. Setelah lulus dari teknik pertambangan ITB pada 2002, ia mengikuti graduate development program (GDP) di PTFI selama satu tahun. Pada 2004, ia menjadi karyawan permanen dengan tugas sebagai mine engineer untuk perencanaan tambang.

“Saya, bertanggung jawab terhadap perencanaan jangka pendek dan jangka panjang untuk operasi tambang bawah tanah dengan sistem block caving di tambang DOZ saat itu. Pekerjaan rutin saya adalah menyiapkan perencanaan dan desain tambang, bagaimana membuat terowongan, kemudian bagaimana memastikan terowongan itu disangga dengan baik dan memiliki faktor keselamatan yang tinggi. Kemudian, memastikan aktual kemajuan terowongan dan infrastruktur tambang sejalan dengan perencanaan yang telah dibuat supaya kita bisa mencapai target-target produksi yang sudah ditetapkan oleh perusahaan,” papar Henky.

Pada 2007, Henky mendapat kesempatan untuk bekerja di kantor pusat PTFI di Phoenix, Arizona, AS. Tugasnya adalah perencanaan strategis tambang bawah tanah, salah satunya yaitu terlibat dalam studi kelayakan tambang bawah tanah DMLZ dan GBC. Sekembali dari AS, tidak lama dipromosikan menjadi superintendent pada 2010 dan bertugas di bagian operasi, mengawasi produksi dan pembuatan terowongan. Kariernya terus menanjak menjadi manajer produksi tambang bawah tanah pada 2013 dan setahun kemudian menjadi VP operasi tambang bawah tanah.

Ia bertanggung jawab atas operasi tambang DOZ dan DMLZ, dengan mengelola sekitar 2000 karyawan. “Saya bertanggung jawab untuk memastikan tambang bisa menghasilkan sekitar 70 ribuan ton per hari dan membangun sekitar 18 kilometer terowongan tiap tahunnya,” ungkapnya. Dia sempat dirotasi ke bagian maintenance, sebelum menjabat VP OHS lima bulan terakhir.

Belajar hal baru

Vice President Geoengineering PTFI Ardhin Yuniar

Kompleksnya operasi tambang bawah tanah menuntut studi dan perencanaan matang. Setiap pengambilan keputusan harus berbasis data. Data dibutuhkan untuk menjadi alasan keputusan investasi, baik dari sisi keekonomian maupun keselamatan. “Tanpa data, kita akan mengira-ngira,” tutur Vice President Geoengineering PTFI Ardhin Yuniar.

Menurut Ardhin, divisinya bertanggung jawab untuk melakukan data acquisition, data processing, serta memberikan evaluasi dan informasi terkait ilmu kebumian. Di dalamnya ada geologi, geoteknik, hidrologi, baik di tambang maupun area di luar tambang. Data harus diproses sehingga menghasilkan informasi. Proses ini membutuhkan skill set yang mencukupi.

“Kadang-kadang kita usahakan semaksimal mungkin dari teman-teman nasional, dari Indonesia. Tapi, kalau dibutuhkan, kita juga menyewa jasa konsultan untuk bisa memproses data-data kadar menjadi model, data-data batuan menjadi informasi pendukung keselamatan tambang, data-data pengeboran eksplorasi untuk membuka tambang baru dan sebagainya,” papar Ardhin. Bisa dikatakan, divisi geoengineering berperan memastikan tambang yang dibangun ekonomis, dan selamat untuk dioperasikan.

Sebelum menduduki posisi sekarang, Ardhin sempat pula bertugas di tambang bawah tanah sebagai VP Underground Expansion. Pada 2013-2015, PTFI sedang mempersiapkan tambang DMLZ, baik infrastruktur dan membangun terowongan hingga mempersiapkan tenaga kerja. Setelah DMLZ, pada 2015 Ardhin pindah ke tambang GBC untuk melakukan tugas yang sama. Ia mempersiapkan tambang GBC hingga beroperasi pada awal 2019.

Meski tugasnya sama, tantangan yang dihadapi Ardhin berbeda. Ia menuturkan, DMLZ memiliki batuan yang kuat sehingga memiliki risiko seismik. Sedangkan di GBC, banyak batuan lemah sehingga digali sedikit pun sudah turun sendiri. Namun, yang menarik bagi Ardhin, di GBC pihaknya mengimplementasikan shaft yang amat besar, berdiameter 8,5 meter dan tinggi 353 meter. “Cukup menyenangkan dan cukup membanggakan bisa punya shaft sebesar itu di Indonesia meskipun kita harus belajar untuk membangunnya,” ungkap Ardhin.

Hal menarik lain bagi Ardhin di tambang GBC adalah terkait perkeretaan yang dioperasikan secara remote. Untuk itu, ia sampai belajar ke Swedia. Bagi pekerja tambang seperti Ardhin, hal-hal baru seperti itu terasa seru dan menarik. Beruntung PTFI memfasilitasi dan memberi kesempatan ia mempelajari banyak hal baru, utamanya terkait metode block caving.

 Sabar

 Selain Ardhin dan Henky, menurut Zulkifli masih banyak engineer-engineer muda berpotensi yang berkarya di PTFI. Sejauh ini, PTFI memiliki proses seleksi dan rekrutmen yang mengedepankan kompetensi kandidat. Perusahaan juga memiliki kebijakan rekrutmen untuk mendahulukan karyawan dari Papua, baru bergerak ke Indonesia Timur, baru ke Indonesia Barat. Bagi perusahaan, penggunaan tenaga-tenaga nasional akan memudahkan operasional, baik dari segi budaya, biaya, maupun perizinan.

Foto-foto: dokumen Freeport Indonesia.

Hanya saja, meski berkualitas dan cepat beradaptasi dengan kemajuan, Zulkifli mengungkapkan, banyak tenaga nasional yang kurang sabar. “Mereka tiba-tiba ingin melompat dan merasa semua sudah diketahui. Padahal, menduduki posisi-posisi penting tentunya membutuhkan jam kerja dan pengalaman kerja yang cukup. Bukan hanya skill dan keahlian dari sisi teknologi, tetapi juga bagaimana menangani sumber daya pertambangan kita yang sangat besar juga manusia cukup besar, serta kompleksitas area kerja kita yang luar biasa,” papar Zulkifli.

Tour of duty seperti yang dijalani Ardhin dan Henky justru kesempatan untuk membekali para engineer-engineer yang potensial agar memiliki pengalaman dan mengetahui seluruh proses di PTFI. “Sehingga pada saat mereka menduduki posisi penting dan tinggi, mereka mengetahui dan dapat menyelesaikan masalah karena mereka mengerti benar apa yang ada di PTFI,” pungkas Zulkifli. [ACA]