logo Kompas.ID

Taja

Taja Unikom: Prestasi dan Komitmen pada Kualitas Pendidikan

Unikom: Prestasi dan Komitmen pada Kualitas Pendidikan

Universitas Komputer (Unikom) telah merekam beragam prestasi membanggakan, tidak hanya bagi kampus, tetapi juga Indonesia. Di level internasional, antara lain juara dunia ICT World Skills Competition 2019 dan sembilan tahun berturut-turut menjadi juara dunia kontes robot internasional. Perguruan tinggi ini juga tercatat dalam 50 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia dari UniRank.

FOTO-FOTO: DOK. UNIKOM.

Komitmen terhadap kualitas pendidikan telah memungkinkan Unikom meraih prestasi-prestasi tersebut. Antusiasme belajar terus dibangun, baik bagi dosen maupun mahasiswa. Universitas yang berdiri pada Agustus 2000 ini menerapkan pula budaya organisasi yang disingkat PIQIE, yaitu Professionalism, Integrity, Quality, Information Technology, dan Excellence.

“Dosen dan karyawan harus bekerja berdasarkan budaya itu. Bagi kami, PIQIE ini merupakan satu dasar utama untuk bergerak bersama-sama sebagai satu tim untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Dengan adanya budaya organisasi itu, kita lalu mendorong dosen-dosen untuk meningkatkan keterampilan-keterampilan tertentu. Maka, kemudian lahirlah divisi-divisi dan subdivisi di Unikom untuk mengembangkan penelitian ilmiah yang kemudian disertakan dalam berbagai kompetisi berskala nasional dan internasional,” ujar Prof Dr Ir H Eddy Soeryanto Soegoto MT, Selasa (7/7/2020).

Prof Dr Ir H Eddy Soeryanto Soegoto MT.

Saat ini, terdapat 7 fakultas dengan 28 program studi di Unikom. Sekitar 500 dosen mengajar di perguruan tinggi ini, dan hampir 60 persennya bergelar doktor. Rektor Unikom bercerita, salah satu kunci lain meningkatkan kualitas pendidikan di Unikom adalah dengan mempertahankan rasio dosen dan mahasiswa.

“Karena kualitas adalah yang utama bagi Unikom, rasio dosen dan mahasiswa selalu kita pertahankan 1:25 untuk grup eksakta dan 1:30 untuk noneksakta. Rata-rata setiap tahun kami menerima 3.500 mahasiswa baru,” kata Eddy.

Dukungan penuh

Ada banyak pencapaian bergengsi yang telah diraih Unikom. Sebut saja juara dunia ICT World Skills Competition (Rusia, 2019); juara ICT Asia World Skills Competition (Uni Emirat Arab, 2018); 9 tahun juara dunia kontes robot internasional di AS, 7 tahun menjadi juara Asia Pacific ICT Award APICTA, dan 10 tahun menjadi juara nasional Microsoft Imagine Cup. Dukungan kampus yang berlokasi di Bandung ini memang tak main-main bagi dosen atau mahasiswa yang unjuk kemampuan di lingkup yang lebih luas.

“Yang saya terapkan kepada dosen maupun mahasiswa Unikom itu adalah, pertama, memfasilitasi sarana dan prasarana yang mereka butuhkan untuk melakukan riset, 100 persen kami biayai. Kedua, kalau mereka berkompetisi, keperluan seperti transportasi dan akomodasi juga kami biayai. Ketiga, kampus ini memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang berprestasi. Selain itu, kalau di kompetisi tertentu mereka mendapatkan penghargaan berupa uang, kami akan memberikan juga uang sejumlah itu kepada mereka. Penghargaan semacam ini bisa memacu mereka untuk berprestasi,” tutur Eddy.

Rektor sekaligus pendiri Unikom ini juga betul-betul menyiapkan lulusan kampus ini untuk menjadi seseorang yang kompeten dan berkontribusi bagi masyarakat. Salah satu caranya, menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib universitas sejak 2007. “Setiap orang, dari bidang apa pun, bisa menjadi entrepreneur. Kami bertujuan menciptakan job creator,” tegas Eddy.

Pengembangan kewirausahaan ini diperkuat lagi dengan adanya inkubator bisnis. Ini memfasilitasi para mahasiswa untuk mengenalkan produk-produk mereka.

Selain kewirausahaan, Unikom memberlakukan tiga mata kuliah wajib lain untuk semua program studi, yaitu perangkat lunak komputer (software), perangkat keras komputer (hardware), dan animasi multimedia. Seperti dikatakan Eddy, dasar-dasar ini penting diketahui semua lulusan karena mereka membawa nama Unikom. Penguasaan teknologi informasi menjadi sesuatu mutlak sebagai bekal menghadapi dunia saat ini dan di masa mendatang.

Menurut Eddy, di cakupan dunia pendidikan yang lebih luas, kurangnya penguasaan teknologi informasi juga menjadi hambatan untuk memajukan pendidikan. Sudah waktunya kita bergeser dari pola-pola konvensional untuk bisa melompat lebih jauh dan menghadapi tantangan di dunia yang kian dinamis ini. [NOV]

Artikel ini merupakan kerja sama harian Kompas dengan Universitas Komputer.