”Bukan seberapa jauh atau cepat kamu berlari, tetapi seberapa bahagia kamu berlari.” Kutipan itu sering kali saya sampaikan kepada teman-teman pelari mula (newbie). Sebagai ”pelatih”—pelari telat dan tertatih-tatih—yang sudah tidak muda lagi, berolahraga lari sekadar untuk mendapatkan kebugaran tubuh. Jangan sampai sehat dicari, cedera didapat. Begitu berkesempatan berlari di ajang maraton terbesar di Asia, Tokyo […]
Untuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket Kompas Digital Premium atau login jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses bebas ke semua Berita Bebas Akses