KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA

Dwi Suchufi (46)

Begitu era cara membeli tiket pesawat tak lagi lewat jasa biro perjalanan wisata atau agen, Dwi Suchufi (46) tak lantas kehilangan cara untuk terus mengais rezeki di bisnis pariwisata. Sempat putus asa karena bisnis travel, terutama menjual tiket penerbangan yang digeluti sejak 2009, mendadak tak dilirik sama sekali.

Sejak tahun 2015, pesanan sekaligus pembelian tiket untuk terbang, baik domestik maupun internasional, kata ibu dari dua anak ini langsung terjun bebas alias ditinggalkan. Di tengah kebingungan itu, pemilik Raafi Tours and Travel ini tak lantas berhenti berbisnis. Dia justru mencari usaha baru dengan pasar utama di sekitar dunia pariwisata.

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bhayangkara, Surabaya, Jawa Timur, ini mulai usaha baru, yakni bisnis kuliner dengan merek Nasi Bakar Bandara. Nama bandara pada nasi bakar yang diolah sendiri dengan dibantu dua pegawai tetap melekat pada produk nasi bakar yang mulai dipasarkan satu dua bungkus kepada sesama teman ”seprofesi” di Bandara Internasional Juanda.

Dari dahulu, teman-teman dan semua pihak yang terlibat di sektor pariwisata  berkumpul di sekitar bandara. Urusannya tidak hanya menyediakan tiket, kendaraan, memilih restoran, tetapi juga destinasi yang paling digemari di wilayah Jawa Timur.  Apalagi destinasi di provinsi bermoto Jer Basuki Mawa Beya ini setidaknya ada 784 daerah tujuan wisata alam (265 obyek), budaya (320 obyek), dan buatan (199 obyek) yang tercatat oleh pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota.

Destinasi yang luar biasa keelokannya dari Pacitan hingga Banyuwangi ini juga didukung 1.883 penginapan berupa hotel, resor, wisma, pondok, graha, dan losmen dengan kategori bintang 1-5 atau melati. Selain itu, ada 3.753 restoran, kafe, bar, dan kedai makan-minum. Juga 1.461 usaha perjalanan wisata.

Sebagai perempuan pengusaha di sektor pariwisata banyak permintaan yang harus disediakan atau disiapkan untuk menyambut tamu. ”Awalnya saya bawa dulu dua apa tiga bungkus nasi bakar ke bandara. Saya minta teman-teman rasakan kelezatan dari masakan saya. Order pun terus mengalir hingga hari ini,” ujar Neneng, begitu dia dipanggil teman sejawatnya.

Nasi, kata perempuan yang selalu tampak energik ini, merupakan salah satu santapan favorit masyarakat Indonesia. Pilihannya nasi bakar karena tidak rumit ketika dibawa, tanpa kuah, cita rasa tinggi, dan tahan 6-8 jam. Biasanya ada tamu tiba di Bandara Juanda pukul 12.00, sehari sebelumnya dipesan tolong disediakan 200 bungkus. Jadi begitu tiba di Bandara Juanda, rombongan bisa langsung makan nasi di bus sambil meneruskan perjalanan ke daerah tujuan wisata seperti ke Batu, Malang, atau Madura.

Awalnya saya bawa dulu dua atau tiga bungkus nasi bakar ke bandara. Saya minta teman-teman rasakan kelezatan dari masakan saya. Order pun terus mengalir hingga hari ini.

Pernah. kata Neneng, ada rombongan mau umrah dan pesan 500 bungkus. Idealnya nasi bakar itu sudah disantap ketika transit di Kuala Lumpur, Malaysia. ”Tiba-tiba saya dikirim gambar nasi bakar yang masih enak disantap, padahal dimakan ketika tiba di Jeddah. Artinya, hampir 15 jam,” kata Neneng.

Pesanan nasi bakar dari koleganya pun nyaris tanpa henti. Jangankan 10 bungkus, satu atau dua bungkus pun dilayani meski mendadak. ”Order selalu mendadak padahal jumlahnya selalu tak kurang dari 50 bungkus,” ujar Neneng yang benar-benar mengoptimalkan pemasaran nasi bakar lewat berbagai kalangan, termasuk media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Go-Food.

KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA

Nasi Bakar Bandara tahan enam jam setelah diproses. Hal itu karena saat memanggang menggunakan alat pemanggang dengan api sangat kecil sehingga kematangannya merata.

Harga saat ini Rp 16.000 per porsi untuk semua rasa dengan lauk ayam, ikan tuna, dan teri. Pengusaha yang kini menjadi Humas Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Jawa Timur ini  menyebutkan, jika dalam mengembangkan usaha sejak 2005 belum bersentuhan dengan perbankan.

”Saya modal sendiri. Lagi pula mau mengajukan kredit ke bank, selain syaratnya cukup rumit, saya juga masih bisa mengandalkan dana sendiri,” ujar Neneng yang sekarang semakin gencar mempromosikan nasi bakar kepada turis yang berkunjung ke Jatim.

Dia juga siap menjadi pemandu turis. Pemesanan tiket masih ada, tapi tak mungkin lagi diandalkan. ”Saya tidak bisa jauh dari bisnis pariwisata dan fokus pada kuliner, terutama nasi bakar,” ujar Neneng, yang memanggang nasi tidak di atas bara arang, tapi kompor gas.

Semua nasi bakar yang rata-rata hampir 3.000 bungkus setiap bulan menggunakan alat pemanggang serbaguna. Intinya saat membakar basi, apinya kecil sehingga kematangan rata dan tahan lama.

KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA

Dwi Suchufi

Di tengah kesibukannya mengembangkan bisnis kuliner berupa nasi bakar, ibu dari Raafi Karunia Putra dan Keisya Teratai Putih ini terus mencari cara agar turis, baik lokal maupun mancanegera, kian ramai mengunjungi Jatim. Banyak paket yang ditawarkan bagi turis tergantung dari lama tinggal dan kegemarannya.

Turis tidak semua mau berdarmawisata yang menantang, seperti naik gunung Bromo atau Ijen. Ada juga yang datang ke Jatim setiap kali berlangsung lomba karapan sapi atau sapi sonok di Sumenep atau Pamekasan, Madura.

Ada pula yang minta hanya melintas di Jembatan Suramadu, lalu kuliner terus kembali ke Bandara Juanda. Namun, banyak di antaranya juga ingin mengunjungi Kota Batu, Wisata Bahari Lamongan, dan Goa Maharani.

Kuliner juga bagian dari bisnis pariwisata dan, menurut Neneng, nasi bakar salah satu jalan untuk memperkenalkan makanan khas di Jatim. Nasi bakar dengan berbagai lauk dan bisa bertahan hingga 6 jam tanpa repot membawanya juga membuat pelanggannya terus bertumbuh. ”Kurang banyak apa kuliner di Jatim, tetapi nasi bakar yang saya tawarkan memang sedap dan lidah tak bisa ditipu,” ujar Neneng.