Foto ini  tidak terpilih untuk HL edisi 16 Januari 1998 (dengan sejumlah alasan),  tetapi justru terlihat lebih menarik sehingga dipilih untuk dimuat di buku foto Matahati, buku yang berisi kumpulan foto terbaik harian Kompas 1965-2005.
Foto ini tidak terpilih untuk HL edisi 16 Januari 1998 (dengan sejumlah alasan), tetapi justru terlihat lebih menarik sehingga dipilih untuk dimuat di buku foto Matahati, buku yang berisi kumpulan foto terbaik harian Kompas 1965-2005.
Ketika mulai menjabat sebagai Koordinator Fotografi Harian Kompas pada tahun 1996, saya mendapat sebuah pesan dari beberapa senior bahwa foto kegiatan Presiden Soeharto harus dimuat di halaman pertama sebagai headline. “Perintah” yang ternyata kemudian terbukti salah ini dalam beberapa tahun sungguh saya laksanakan sampai terjadi peristiwa yang disebut Reformasi 1998.

Dalam era sebelum saya menjabat pun, rumor itu juga dijalankan senior saya, Kartono Ryadi. Dalam era 1980 sampai 1990-an, sebagian besar foto kegiatan Presiden Soeharto adalah “foto cangkir” dan “foto kuda”, demikian kami biasa menyebutnya, selalu menghiasi headline (HL) harian Kompas.

Presiden China Jiang Zemin secara tidak terduga mengajak Presiden Megawati Soekarnoputri berdansa sekitar enam menit dengan iringan musik orkestra pada 24 Maret 2002 dalam acara jamuan makan malam kenegaraan di Balai Rakyat Agung, Beijing. Sebanyak 100 undangan yang hadir tertegun melihat adegan yang sangat jarang terjadi itu.
Presiden China Jiang Zemin secara tidak terduga mengajak Presiden Megawati Soekarnoputri berdansa sekitar enam menit dengan iringan musik orkestra pada 24 Maret 2002 dalam acara jamuan makan malam kenegaraan di Balai Rakyat Agung, Beijing. Sebanyak 100 undangan yang hadir tertegun melihat adegan yang sangat jarang terjadi itu.

Yang disebut “foto cangkir” adalah acara Presiden Soeharto di Istana Negara. Soeharto memegang cangkir dan dikelilingi orang-orang (yang juga memegang cangkir) yang terpilih untuk terfoto wartawan. Sementara “foto kuda” adalah foto acara Soeharto di Bina Graha menerima tamu sambil duduk di meja kerja. Di meja itu, ada sebuah patung kuda yang selalu ikut terpotret dari sudut yang sama persis.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers sehubungan dengan jatuhnya nilai tukar rupiah dan saham yang terjadi belakangan ini pada 30 Agustus 2005 di Kantor Presiden.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers sehubungan dengan jatuhnya nilai tukar rupiah dan saham yang terjadi belakangan ini pada 30 Agustus 2005 di Kantor Presiden.

Patung kuda tersebut sangat populer, dan dulu pada tahun 1990-an tiruannya banyak dijual di beberapa perempatan jalan. Penjualnya selalu menawarkan dengan, “Patung kuda Pak Harto…. Patung kuda Pak Harto….”

Foto ini  tidak terpilih untuk HL edisi 16 Januari 1998 (dengan sejumlah alasan),  tetapi justru terlihat lebih menarik sehingga dipilih untuk dimuat di buku foto Matahati, buku yang berisi kumpulan foto terbaik harian Kompas 1965-2005.
Foto ini tidak terpilih untuk HL edisi 16 Januari 1998 (dengan sejumlah alasan), tetapi justru terlihat lebih menarik sehingga dipilih untuk dimuat di buku foto Matahati, buku yang berisi kumpulan foto terbaik harian Kompas 1965-2005.
Kesan tertindas

Krisis ekonomi yang mulai melanda Indonesia sejak 1997 membawa aneka hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto menandatangani kesepakatan dengan IMF di tempat tinggalnya di Jalan Cendana. Sesuatu yang agak mengejutkan.

Waktu itu fotografer Kompas, JB Suratno, sudah memilih sebuah foto untuk HL Kompas edisi 16 Januari 1998. Namun, foto itu ditolak beberapa petinggi Kompas dengan alasan takut Soeharto marah karena foto itu menunjukkan Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus tampak begitu angkuh, sementara Soeharto tampak “tertindas”.

Akhirnya dipilih foto lain yang tidak menampilkan keangkuhan Camdessus, dan juga gestur Presiden Soeharto lebih baik. Kelak, dalam buku foto Matahati yang merupakan kumpulan foto terbaik harian Kompas 1965-2005, foto yang gagal dipakai itu justru dipasang di sana. Kedua foto ada di halaman ini, silakan dibandingkan.

Pemred berkamera

Di era Presiden Megawati, kala presiden melakukan kunjungan ke luar negeri, hanya pemimpin redaksi (pemred) atau yang setingkat yang bisa mengikutinya. Faktanya, sangat jarang kelas pemred membawa kamera ke mana-mana.

Maka, pada 24 Maret 2002 saat Presiden RRC Jiang Zemin mengajak dansa Presiden Megawati, sungguh sedikit pemred yang memotret. Pemred Kompas waktu itu, Suryopratomo, walau hanya bermodal sebuah kamera saku, berhasil mendapatkan fotonya walaupun dengan setting warna yang “sangat salah”. Foto yang lalu dimuat hitam putih itu cukup membanggakan Kompas karena hampir tidak ada koran lain yang memilikinya.

Kisah tentang foto-foto Presiden RI yang pernah dimuat Kompas mari kita akhiri dengan foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dibuat pada 30 Agustus 2005. Waktu itu Presiden Yudhoyono memberikan penjelasan tentang jatuhnya nilai rupiah. Fotografer yang memotretnya adalah Julian Sihombing (almarhum).

Keesokan harinya, foto itu memancing banyak sekali komentar. Konon banyak yang tak berkenan pada foto itu. Beberapa petinggi di Kompas pun merasa kecolongan. Mengapa? Coba Anda pikirkan….