Alat “roasting” biji kopi sederhana mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani kopi yang sebarannya terlihat dalam peta Indonesia, seperti terlihat di salah satu gerai di The Breeze, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (7/5).

Dari butiran-butiran biji kopi, tersaji secangkir kopi yang sedap. Tersaji hangat ataupun dingin, secangkir kopi bisa dinikmati mulai pagi di saat terbangun dari tidur, siang seusai santap siang, ataupun di saat bertemu kawan untuk sekadar ngobrol pada sore hari. Bahkan, saat malam, ada pula sebagian penikmat kopi meluangkan waktu demi secangkir kopi. Tak ada batasan waktu untuk menikmati kopi.

Secangkir atau segelas kopi yang semakin gampang dinikmati di kedai kopi atau restoran menjadi titik tolak perlunya mencarikan terobosan peningkatan nilai tambah bagi petani kopi di Indonesia. Terobosan itu ditunjukkan dalam Citi Global Community Day 2017 yang digelar Citi Indonesia di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Minggu (7/5).

Di Indonesia, Citi ikut mendorong peningkatan kesejahteraan petani kopi dan keluarganya. Mengapa petani kopi sebagai pilihan?

”Sebagian besar karyawan Citi Indonesia menggemari dan menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup mereka, mulai dari bangun tidur, saat meeting, kala meredam kepenatan pekerjaan, hingga sekadar teman relaksasi bersama teman dan keluarga. Namun, sering kali kita lupa, masih banyak petani kopi yang hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk itu, kami mengajak seluruh karyawan membantu meningkatkan kesejahteraan petani kopi,” kata Elvera N Makki, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, di sela-sela penyerahan mesin sangrai kopi kepada perwakilan komunitas petani kopi.

Terdorong atas kebutuhan itu, kini sejumlah petani kopi di lima wilayah di Indonesia, yakni Ruteng dan Suanae (Nusa Tenggara Timur), Cikalong Wetan (Jawa Barat), Klaten Gunung Merapi (Jawa Tengah), dan Karo Gunung Sinabung (Sumatera Utara) memperoleh sejumlah mesin sangrai kopi.

Untuk menunjang sekolah anak-anaknya, sebanyak 278 pasang sepatu juga disalurkan oleh Citi Indonesia. Bentuk bantuan dan lima wilayah penerimanya ditentukan bersama lembaga swadaya masyarakat Gerakan Daerah Terbarukan Kopi Tanah Air Kita dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, serta Badan Ekonomi Kreatif RI.

Selama ini keluhan petani kopi di Indonesia masih berkutat pada sulitnya memiliki alat untuk menyangrai biji kopi yang sudah dikeringkan. Hal itu pun diakui Priyo Ketonggo, mewakili petani kopi Gunung Merapi.

Menurut Priyo, petani kopi di Desa Ndeles, Sidorejo, Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, selama ini mesti menyangrai biji kopi di Yogyakarta. Sudah memakan waktu perjalanannya, petani pula harus membayar proses sangrai sebesar Rp 70.000 per 3 kilogram biji kopi. Padahal, satu hektar lahan hamparan di daerah ini bisa menghasilkan biji kopi sebanyak 5-6 ton setiap kali panen.

”Dengan bantuan alat roasting (sangrai) ini, paling tidak bisa menekan biaya sangrai separuhnya. Juga, kadar pemanggangan bisa ditentukan sendiri untuk mendapatkan aroma kopi bermutu tinggi. Tidak lagi bergantung pada jasa roasting di tempat lain,” kata Priyo.

Priyo mengatakan, kondisi petani kopi memang sulit mendapatkan nilai tambah apabila tidak memiliki alat sangrai sendiri. Harga jual biji kopi tidak sebanding dengan ongkos petik kopi. Ongkos petik bisa mencapai Rp 55.000 per kg setiap kali panen. Sementara harga kopi setelah dikeringkan hanya Rp 45.000 per kg. Belum lagi pengeluaran petani untuk ongkos mengangkut biji kopi mentahnya untuk disangrai di kota lain.

Adapun alat sangrai sederhana itu terlihat berbentuk kompor gas kecil yang sudah dimodifikasi alat sangrai di bagian atas tungku apinya. Alat sangrai itu rupanya diproduksi di daerah Tangerang.

Menggagas nilai tambah kopi sudah tak bisa lagi diabaikan. Ini sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan penghasilan petani. Dengan alat sangrai sendiri, kata Priyo, harga biji kopi bisa meningkat tajam. Setelah diberikan merek, bisa dijual di pasaran seharga Rp 70.000 per 250 gram biji kopi yang sudah disangrai.

Kelak, peningkatan nilai tambah bagi komunitas petani kopi di Gunung Merapi ini mampu pula menghidupkan tanggung jawab sosialnya. Selama ini paguyuban petani kopi ini diam-diam juga terdorong menghidupkan anak-anak yatim di sekitar lereng Merapi. Mereka itu disebutnya sebagai ”Anak-anak Kancing”.

Tidak sekadar menghidupkan anak-anak ini agar memperoleh pendidikan dan tingkat kehidupan yang layak, tetapi kelak dapat menjadi penerus warisan orangtua mereka mengembangkan kopi-kopi bermutu. Bahkan, membuat terobosan-terobosan sesuai zamannya untuk meningkatkan nilai tambah dari biji kopi.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menyatakan, salah satu program Bekraf adalah secara reguler dan masif mengadakan sertifikasi pelatihan profesi barista kopi di beberapa kota. Semua ini bertujuan agar petani kopi tidak hanya menjual biji kopi mentah, tetapi juga dapat mengolah secara alami, menambahkan pendapatan mereka, sekaligus membangun brand- brand nasional yang mampu bersaing di skala internasional. (OSA)