KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta yang berlangsung hingga 22 April 2018.

Warna merah kerap melambangkan kehidupan, kekuasaan, dan kemakmuran. Warna ini juga sering dikaitkan dengan hasrat jiwa, cinta, kebahagiaan, dan keberanian. Bagi Hermes, warna merah menempati posisi khusus. Ketika kulit baru sebatas berwarna natural dan hitam, Hermes membuat revolusi dengan menghadirkan warna merah.

Dalam pameran ”Hermes Heritage-Rouge Hermes” yang berlangsung di Pacific Place, Jakarta, dipamerkan berbagai koleksi produk Hermes dalam berbagai warna merah, mulai dari sadel kuda hingga kabinet perhiasan. Tentu saja, koleksi tas kulitnya yang tersohor itu tidak ketinggalan turut dipajang dalam pameran yang berlangsung sebulan hingga 22 April ini. Rouge dalam bahasa Perancis berarti ’merah’.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, pada hari Kamis (22/3/2018).

”Pameran Rouge Hermes boleh dibilang baru pertama kali diselenggarakan dan itu di Jakarta,” kata Eric Festy, Managing Director Hermes untuk wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan.

Merah yang mendobrak
Tema rouge dipilih karena warna ini dianggap sangat ikonik. Ini merupakan permulaan eksplorasi Hermes terhadap warna selain warna natural kulit dan hitam. ”Orang sering bertanya, apa itu rouge Hermes dan inilah warna yang bersejarah itu. Bisa dilihat melalui barang-barang yang kami pamerkan,” kata Eric.

Warna merah itu tidak sama dari waktu ke waktu. Warna merah tua pada suatu masa terlihat bak merah darah, condong ke arah coklat, bernuansa merah muda, ke arah ungu, atau bentang warna lainnya.
”Lewat rouge, kita bisa melihat bagaimana perusahaan ini bertumbuh dan berkembang melalui warna,” kata Eric.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, pada hari Kamis (22/3/2018).

Menurut dia, kala itu, Hermes bekerja sama dengan sebuah perusahaan penyamakan kulit yang pemiliknya merupakan sahabat dekat Emile-Maurice Hermes, generasi ketiga pendiri dan pemilik Hermes. Setelah serangkaian percobaan, diperoleh warna merah pekat yang mendobrak produk kulit saat itu yang didominasi warna natural.

Hermes menjadi sebentuk sejarah dan tradisi mengingat merek ini sudah dibangun lebih dari 180 tahun lalu oleh Thierry Hermes di Perancis. Sebuah sadel militer dari abad ke-19 yang pernah dipamerkan tahun 1867 di Paris adalah salah satu koleksi yang turut dipamerkan di Jakarta.

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, pada hari Kamis (22/3/2018).

Sadel ini memadukan warna merah Maroko ke arah coklat dan merah crimson pada kain beludrunya yang dihiasi quilt yang membentuk motif flora. Sadel ini dikoleksi Emile-Maurice Hermes, cucu Thierry Hermes, yang mewarisi usaha ini dari sang ayah, Charles-Emile Hermes. Charles-lah yang mengembangkan merek ini hingga merambah benua lain di Amerika, Asia, hingga Afrika.

Bermula dari sadel

Pada mulanya, Hermes memproduksi sadel dan harness untuk kebutuhan berkuda para bangsawan Eropa. Pabrik ini juga membuat harness dan tali kekang kuda dari besi tempa untuk kereta barang. Pada 1900-an, Hermes mulai memproduksi tas untuk membawa sadel. Tas tangan baru diproduksi tahun 1922 oleh Emile-Maurice yang dua tahun sebelumnya mematenkan ritsleting tas.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, pada akhir Maret 2018.

Pameran ”Rouge Hermes” yang dikuratori Bruno Gaudichon ini dibagi dalam lima ruang berdasarkan tema, yakni ”The Original Crimson”, ”The Invention of A Deep Red”, ”Over The Shoulder, The Arm, or In The Hand”, ”Custom Takes Up Reds”, dan ”To Grace The Everyday”.

Pada ruang yang mengeksplorasi tema ”The Original Crimson”, selain sadel, dipamerkan pula sebuah botol parfum dari abad ke-18 yang berbungkus kulit yang sepintas penampilannya seperti pemantik api. Selain itu, ada pula perlengkapan menulis di perjalanan yang memadukan kulit, sutra, dan perak.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, pada hari Kamis (22/3/2018).

Ruang yang mengetengahkan tema ”Over The Shoulder, The Arm, or In The Hand” lebih mengeksplorasi koleksi tas dengan aneka warna merah, baik yang disandang di bahu maupun ditenteng. Mulai dari tas museliere yang berbentuk seperti ember, tas bepergian, tas punggung, tas sac a depeches yang kemudian lebih dikenal sebagai tas Kelly, hingga Birkin dari kulit buaya yang menjadi rebutan kaum hawa berduit.

Ruang ”Customs Takes Up Reds” menampilkan produk, seperti jam tangan, topi, sarung tangan, sepatu bot, dasi, dan gaun satin sutra yang diperuntukkan untuk peralihan musim gugur ke dingin. Kabinet yang terdiri dari meja dengan cermin dan laci-laci yang seluruhnya dilapisi kulit asli menjadi pusat perhatian pada ruang terakhir, ”To Grace The Everyday”. Kini, Hermes memproduksi 16 jenis barang.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, juga menampilkan jam tangan. Foto diambil akhir Maret 2018.

Pasar di Indonesia

Hermes adalah legenda. Konsistensinya pada garis rancang yang klasik, simpel, tetapi elegan menjadi rahasia daya pikat selain kemampuannya membangun nama dan citra sebagai produk berkelas dan penuh prestise. ”Kunci Hermes bertahan sekian tahun dalam bisnis ini adalah tahu akar dan sejarah serta bagaimana memadukannya dengan inovasi baru,” kata Eric.

Pameran ”Rouge Hermes” yang diselenggarakan di Pacific Place, Jakarta, adalah dalam rangka mengiringi pembukaan kembali toko di mal tersebut setelah selesai renovasi. Jakarta, meski bukan pasar sebesar China dan Jepang, memperlihatkan perdagangan yang terus tumbuh. Konsumen asal Indonesia bahkan tidak hanya membeli di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, seperti di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Mereka dinilai loyal dan mengenal baik produk-produk Hermes.

”Indonesia tidak sebesar Jepang dan China, tetapi pasarnya terus tumbuh,” ungkap Eric.
Produk Hermes yang tidak murah justru membuat orang, terutama perempuan, tergila-gila ingin memakainya sebagai simbol status. Harganya yang melangit itulah yang kerap menimbulkan obsesi untuk memilikinya. Demikian pula dengan jumlahnya yang terbatas demi menjaga eksklusivitas, kian membuat orang penasaran karena tidak mudah memilikinya.

KOMPAS/ YUNIADHI AGUNG

Pameran Hermes Heritage di Mal Pacific Place Jakarta, pada hari Kamis (22/3/2018).

Sebagai incaran orang-orang berduit, Hermes pun tidak luput dari pusaran perilaku orang-orang yang memperoleh kekayaan lewat jalan korupsi. Hal ini terjadi di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Di China, pengetatan pengawasan terhadap kepemilikan barang-barang mewah bahkan memengaruhi penjualan barang-barang tersebut, termasuk Hermes, seperti diberitakan Reuters.com. Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Tanah Air, sejumlah pelaku korupsi terbukti mengonversi uang hasil korupsi dengan barang-barang mewah, seperti mobil, rumah, hingga tas-tas mahal bermerek, termasuk Hermes. ”Di Indonesia (penjualan) kami tidak terpengaruh isu ini. Kami sendiri tidak memperhatikan soal ini karena kami punya banyak ragam produk dan kami tidak ingin membicarakan hal itu sekarang,” ujar Eric tentang itu.