PALANGKARAYA, KOMPAS – Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah bersama Yayasan Borneo Orangutan Survival menyelamatkan satu orangutan dewasa dari lahan bekas terbakar. Orangutan betina tersebut kemudian langsung dibawa ke Kawasan Sungai Koran, Taman Nasional Sebangau, pada Sabtu (12/8).

Penyelamatan tersebut dilakukan tim gabungan pada Jumat (11/8) kemarin di Kelurahan Kalawa, Kabupaten Pulang Pisau. Orangutan betina tersebut berusia sekitar 15 tahun dengan berat 50 kilogram. Ia ditemukan dalam kondisi kekurangan makanan.

Yayasan BOS

Orangutan betina berumur 15 tahun diselamatkan dari lahan bekas terbakar. Orangutan ini dipindahkan ke Taman Nasional Sebangau oleh BKSDA Kalteng dan Yayasan BOS, pada Sabtu (12/8).

Komandan Tim Rescue Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) Nandang Hermawan mengatakan, operasi dilakukan setelah pihaknya mendapatkan laporan dari masyarakat yang menyebut adanya orangutan liar yang masuk ke perkebunan warga.

“Kita tindaklanjuti laporan tersebut dan melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut. Kita akan pindahkan ke tempat yang lebih berkelimpahan pakan dan bisa survive atau berkesinambungan hidupnya. Rencananya akan dipindahkan ke kawasan Taman Nasional Sebangau. Di situ kan kawasannya cukup bagus habitatnya. Bisa untuk bertahan atau berkembang biak dengan layak,” papar Nandang.

Nandang mengatakan, operasi penyelamatan orangutan awalnya dilakukan di dua lokasi, yakni Kelurahan Kalawa dan Desa Garung, keduanya berada di wilayah Kabupaten Pulang Pisau. Pencarian dimuali dari Desa Garung hingga ke Kelurahan Kalawa.

“Tapi yang di Garung kemarin kita belum ketemu orangutannya. Karena saya lihat kondisi habitatnya sebenarnya masih layak untuk tinggal di situ. Cuma karena kebetulan dia ada di pinggiran kebun,  sehingga warga Garung ini merasa ketakutan. Takutnya diserang oleh orangutan tersebut. Jadi sebenarnya orangutan di Desa Garung itu dia tidak  merusak atau mengganggu kebun warga,” paparnya.

Meski begitu, Nandang tetap meminta warga untuk terus memantau perkembangannya. Apabila nantinya ditemukan kembali adanya orangutan liar masuk ke perkebunan warga, diharap untuk bisa seegra melapor kepada pihak BKSDA.

“Kalau masih ditemukan di situ dan menimbulkan keresahan kita akan tindaklanjuti dan segera lakukan evakuasi. Tapi sampai sekarang yang di Garung belum ketemu juga. Warga pun belum melihat lagi,” ujarnya.

Saat ini, orangutan tersebut sudah dibawa ke lokasi yang lebih baik bersama kawanan orangutan lainnya. Menurut Nandang, orangutan yang ditemukan di Kelurahan Kalawa berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter hewan, kondisinya sehat dan siap untuk segera dipindahkan. Pihaknya tak akan membiarkan orangutan itu mendiami kandang dalam waktu yang lama sebab dikhawatirkan akan menimbulkan stress.

Berdasarkan catatan BKSDA Kalteng, sepanjang tahun 2017, laporan dari warga Kabupaten Pulang Pisau ada empat kasus orangutan yang masuk ke perkebuann dan pemukiman warga. Nandang menyebut, kondisi tersebut terjadi karena habitat mereka sudah rusak akibat Karhutla tahun 2015.

“Saya lihat kondisi habitat terganggu akibat bencana kebakaran tahun 2015. Jadi sebagian kawasan terbakar waktu itu, sehingga satwa-satwa yang ada di dalamnya untuk bertahan dan mencari pakan harus bergeser ke arah perkampungan warga,” ujarnya.

Nandang memprediksi masih ada beberapa orangutan yang ada di kawasan tersebut. Bahkan tahun lalu, pihak BKSDA mendapatkan laporan ada enam individu orangutan di Kelurahan Kalawa yang masuk ke perkebunan warga. Hanya saja setelah dilakukan penyisiran tahun lalu, hanya satu yang ditemukan dan  dievakuasi. Tahun ini selain yang di Kelurahan Kalawa, BKSDA juga pernah menyelamatkan orangutan di kawasan Tumbang Nusa pada akhir Juli.

“Di Kalawa ini sepanjang jauh mata memandang kan seperti padang gersang. Jadi kemungkinan masih ada yang lainnya. Cuma kita belum mendapatkan laporan lagi dari warga ada penyerangan dan lainnya. Bisa jadi warga takt ahu harus melaporkan kasus tersebut ke mana? Makanya tadi malam kita koordinasi dan sosialisasi bersama lurah setempat untuk bisa menyampaikan kepada warganya kalu ada yang menemukan atau ada gangguan dari satwa liar segera melapor ke kita,” katanya.

Koordinator Komunikasi dan Edukasi Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Monterado Fidman mengatakan, operasi penyelamatan orangutan liar yang dilakukan merupakan yang kesekian kalinya dilakukan. Ini menandakan bahwa setelah bencana asap dua tahun lalu memang menyisakan sejumlah persoalan ekologi di wilayah terdampak seperti Taman nasional Sebangau.

“Disinyalir orangutan liar yang masuk ke kebun-kebun dan wilayah pemukiman warga ini keluar dari hutan-hutan penyangga Taman Nasional Sebangau yang juga terbakar. Saat ini di Kabupaten Pulang Pisau dalam catatan kami menyumbang cukup banyak orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi BOS Nyaru Menteng maupun yang dipindahkan ke tempat lain bersama BKSDA Kalteng,” kata Fridman. (IDO)