logo Kompas.ID

Statis

Multimedia Infografik Statis Kereta Bandara yang Kelima
Kereta Bandara yang Kelima
Oleh Dicky Indratno ·

Kereta Bandara Kualanamu Medan yang diresmikan tahun 2013, pada awal tahun beroperasi sempat merugi karena okupansi penumpang rendah. Kemudian mengalami peningkatan keuntungan di tahun berikutnya, apalagi pada akhir 2019 terdapat jalur layang yang mempercepat waktu tempuh Stasiun Medan-Bandara Kualanamu.

Kereta bandara kedua yang beroperasi pada awal 2018, yaitu Kereta Bandara Soekarno-Hatta. Sebagai layanan transportasi pilihan warga ibu kota dari dan ke bandara Soekarno-Hatta, sampai akhir tahun 2019 okupansi penumpang belum menunjukkan kenaikan siginfikan.

Pertengahan 2018 diresmikan kereta bandara di Padang dan LRT di Palembang dengan harga tiket yang murah. Akan tetapi di sisi lain harga tiket pesawatnya tinggi, otomatis berpengaruh pada okupansi penumpang kereta.

Menjelang tutup tahun 2019, Kereta Bandara Adi Soemarmo Solo diresmikan sebagai kereta bandara kelima. Dan pada tahun berikutnya direncanakan beberapa kereta bandara di berbagai kota di Indonesia. Meskipun kereta bandara belum terlihat sebagai moda transportasi utama bagi penumpang pesawat, akan tetapi keberadaannya tetap diperlukan sebagai angkutan pilihan.

Kereta Bandara Minangkabau Padang dan Adi Soemarmo Solo menggunakan kereta berjenis kereta rel diesel elektrik (KRDE) produksi PT INKA. KRDE PT INKA pertama dioperasikan untuk Kereta Prambanan Ekspress jurusan Yogyakarta-Solo pada tahun 2006.

Kereta bandara kelima beroperasi pada akhir Desember 2019. Jalur Kereta Bandara Adi Soemarmo sampai Stasiun Solo Balapan melintasi satu stasiun baru, yaitu Stasiun Kadipiro. Dengan adanya Stasiun Kadipiro, penumpang dari utara, seperti Grobogan atau Purwodadi, dapat menggunakan moda ini. Selain itu, dari Stasiun Solo Balapan juga tersambung ke arah barat, yaitu Klaten dan Yogyakarta.

Infografik lainnya dalam statis