Budi Utomo Prabowo
Budi Utomo Prabowo
Sejak November 2016, Jakarta memiliki orkes filharmonik bernama Jakarta City Philharmonic. Diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta, orkes ini dibentuk untuk membangun budaya bangsa yang bertutur sopan dan berbudi luhur. Di belakang JCP ada Budi Utomo Prabowo (54) sebagai direktur musik dan pengaba.

Nama Budi Utomo Prabowo yang bersapaan Tommy sebenarnya orang lama di pentas musik serius. Setidaknya sejak hampir 30 tahun lalu namanya berada di balik kelompok paduan suara dan sejumlah orkestra di Jakarta dan Yogyakarta. Di sana ia berperan sebagai pelatih dan pengaba (konduktor). Ia termasuk tokoh penting di khazanah musik dan dipercaya sebagai anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2010-2016.

Suatu kali musisi Anto Hoed selaku Ketua Komite Musik DKJ melontarkan ide untuk membentuk orkes filharmonik. Gagasan bersambut dan terwujud. Dalam rapat-rapat muncul nama Tommy sebagai calon direktur musik dan pengaba orkes yang kemudian dinamai Jakarta City Philharmonic (JCP). Ketika itu Tommy kurang begitu yakin akan pembentukan orkes yang penting bagi citra sebuah kota metropolitan sekelas Jakarta.

”Mas Tommy nanti yang jadi music director, dan pada November, Jakarta City Philharmonic akan menggelar konser pertama. Hah… saya kaget…,” kata Tommy mengenang ucapan tokoh DKJ yang sangat serius mendirikan JCP.

Dan jreng, pada 23 November 2016, JCP untuk pertama kali menggelar konser di Gedung Kesenian Jakarta dengan pengaba Tommy. JCP dengan patron utama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu memilih tema pergelaran ”Lanskap Skandinavia”. Menyusul kemudian konser edisi ke-2 pada 8 Desember 2016 dengan tema ”Pesona Romantik Jerman”. Edisi ke-3 dengan tema ”Russia: St Petersburg The Mighty Handful” digelar pada 4 Mei di GKJ. Tema sengaja dipilih karya post romantic seperti karya Borodin, Rimsky-Korsakov, juga karya komponis Indonesia, Tri Sutji Djuliati Kamal. Konser edisi ke-4 JCP menurut rencana digelar 7 Juni di GKJ dengan tema Italia.

Di belakang JCP ada sederet tokoh yang menjadi komisaris. Mereka adalah Aksan Sjuman, Anto Hoed, Fafan Isfandiar, Totot Indrarto, dan Budi Utomo Prabowo. Mereka menganggap orkes filharmonik sangat penting sebagai bagian dari identifikasi kota yang berbudaya. Orkes diharapkan dapat mengangkat nama Jakarta di pergaulan internasional.

”Sudah standar kota metropolitan dunia mempunyai orkes filharmonik. Harus masuk check list sebuah kota,” kata Tommy.

Ia memberikan contoh kota-kota di sejumlah negara Timur Tengah seperti Qatar dan Dubai yang mempunyai orkestra, bahkan gedung opera. Seperti kota-kota lain di dunia, mereka turut berbagi pencapaian peradaban lewat karya musik dunia.

”Musik simfonik, musik klasik sudah terbukti kualitasnya selama ratusan tahun. Kalau jelek, mungkin orang tidak mau mendengar lagi. Entah bagaimana semua bangsa tersentuh, tergerak perasaan saat menikmati musik simfonik. Kalau sebuah bangsa mempunyai budaya tinggi, orkes simfoni pasti masuk,” papar Tommy.

Baton sihir

Tommy memang tidak pernah jauh dari musik, orkestra, dan baton tongkat aba itu. Ia adalah insinyur nuklir lulusan Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1985. Ia lalu bekerja sebagai pegawai negeri sipil selama 12 tahun di Badan Tenaga Nuklir Nasional dan pernah menerima Satyalencana atas pengabdiannya. ”Enggak ada yang mengira saya dulu pakai seragam Korpri, ha-ha-ha…,”

Akan tetapi, pada setiap jenjang hidupnya, musik selalu membayangi. Ketika kuliah di teknik nuklir, ia diajak kawan menyaksikan pergelaran konser pamit oleh mahasiswa Akademi Musik Indonesia (AMI) yang pada awal 1980-an itu berada di Suryodiningratan, Yogyakarta.

”Waktu itu mereka memainkan ”Simfoni Nomor 3” dari Beethoven. Saya rekam pakai walkman dan saya dengarkan terus-menerus. Lalu, ah, saya ingin masuk ke AMI…,”

Dan benar, pada tahun kedua kuliahnya di UGM, Tommy kemudian merangkap kuliah di AMI. Kebetulan sewaktu SMP ia sudah pernah les biola. Begitu pula ketika tugas belajar di Newark, Amerika Serikat, ia memanfaatkan kesempatan untuk merangkap belajar di The Juilliard School, New York, yang terkenal itu. Begitu seterusnya, musik selalu beriringan dengan bidang lain di luar musik, sampai suatu kali ia memilih total di musik.

Rupanya ia juga mempunyai bakat memimpin orkes. Sejak di Yogya, ia sudah menjadi pengaba pada kelompok paduan suara. Akan tetapi, ketika itu belum terpikir untuk menjadi pengaba orkestra. Suatu kali ia bergabung dengan orkes gesek Promusica Indonesia pimpinan Ed C Van Ness. Ketika itu Budi Ngurah, sebagai pengaba, kebetulan sedang berhalangan. Saat itulah Tommy mulai menjadi pengaba sebuah orkes.

Ia mengibaratkan pengaba itu seperti berada di perbatasan antara seniman dan guru. ”Seperti guru karena saya, kan, harus mengajari para pemain. Senimannya karena saya harus membunyikan sesuatu sesuai apa yang saya mau. Saya tahu bunyinya harus seperti ini dan saya harus mengomunikasikan dengan ansambel. Kalau mereka punya masalah, saya harus tahu solusinya,” kata Tommy.

Kini baton Tommy menjadi seperti ”tongkat sihir” yang bersama JCP siap membunyikan keindahan untuk Jakarta.