Tiga sekawan  Osky Carnelius, Randhi Pratama, dan Audrio Susanto, pengusaha muda pemilik jins Aye and Co yang tergabung dalam Project Style Disney.
Tiga sekawan Osky Carnelius, Randhi Pratama, dan Audrio Susanto, pengusaha muda pemilik jins Aye and Co yang tergabung dalam Project Style Disney.
Banyak anak muda berangan-angan menjadi pengusaha dan kaya, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi bikin usaha kan perlu modal. Mendengar kata modal saja, banyak yang langsung ciut nyalinya. Ya enggak, mudaers?

Namun, banyak juga kaum muda yang sukses membangun usaha sendiri. Enggak mudah memang. Jalannya sering kali berliku, mulai dari kekurangan modal sampai ditipu. Kita bisa belajar dari pengalaman mereka.

 Chris Inderayanto (tengah) bersama karyawan merintis bisnis pai apel  di Kota Malang, Jawa Timur.
Chris Inderayanto (tengah) bersama karyawan merintis bisnis pai apel di Kota Malang, Jawa Timur.

Kita mulai dari cerita Raisa Azmi (28) yang memulai bisnis tahun 2011 saat libur kuliah studi pascasarjana di Universitas Indonesia (UI). Dengan modal awal Rp 700.000, dia ambil kerudung dan busana dari Pasar Tanah Abang, Jakarta, lantas menjualnya melalui media sosial. Dia mengerjakan semuanya sendirian. Bahkan, waktu butuh model, dia menunjuk dirinya sendiri. Lumayan menghemat pengeluaran.

Michael Chrisyanto, Agatha Carolina, dan Nicholas Yudha, pemilik toko Monstore. Mereka juga terpilih bergabung dalam Project Style Disney.
Michael Chrisyanto, Agatha Carolina, dan Nicholas Yudha, pemilik toko Monstore. Mereka juga terpilih bergabung dalam Project Style Disney.

Tak disangka, dagangan itu terjual dalam sepekan. Dia juga dapat pelanggan dari Malaysia. “Itu orang pertama yang meminta barang dalam jumlah banyak. Nilainya sampai Rp 10 juta,” ujarnya.

Busana karya Populo Batik.
Busana karya Populo Batik.

Lain waktu, pelanggan itu pesan banyak barang senilai total Rp 70 juta. Namun, saat barang terkumpul, pemesan itu tiba-tiba raib. Enggak ada kabar. Raisa pun kelabakan karena stok barang numpuk dan modalnya terancam mandek.

Saat posisi terjepit, ide Raisa justru mengalir. Ia coba giatkan jualan lewat internet dan lumayan laku. Bahkan, dia pernah berhasil menjual 450 potong busana dan 1.000 potong kerudung dalam sehari.

Usaha Raisa terus berkembang. Cewek ini bahkan merekrut mahasiswa dan ibu rumah tangga sebagai karyawan. Sekarang ada 30 karyawan yang membantunya berbisnis dalam jaringan (daring). Barang dagangnnya juga berkembang mulai peniti, jarum pentul, tas, dan hijab. Kini ia juga lagi melirik bisnis sepatu dan sandal perempuan.

Pertemanan

Menarik juga cerita tiga sekawan, yakni Nicholas Yudha, Michael Chrisyanto, dan Agatha Carolina. Mereka berteman sedari SMA. Mereka kemudian kuliah di jurusan dan kampus yang berbeda, tetapi tetap berteman karena punya minat yang sama: seni.

Minat itu pula yang mendorong mereka menjajal bisnis kaus T alias T-shirt pada 2009. Produk itu diberi sentuhan seni lukis.

“Perhitungannya, kaus T mudah didapat dan bisnis ini tidak terlalu membutuhkan modal besar saat itu,” kata Nick, lulusan Universitas Pelita Harapan. Mereka bertiga patungan, masing-masing Rp 1 juta untuk modal awal.

Dari situ, mereka mendirikan Monstore, toko yang kini berkembang menjual pakaian laki-laki dan perempuan serta pernak-pernik, mulai tas, bantal, badge, hingga asbak. “Latar pendidikan saya arsitek, tetapi saya pegang urusan marketing. Saya pun belajar ilmu pemasaran,” kata Agatha Carolina.

Jalan bisnis mereka tidaklah mulus. Mereka pernah rugi lantaran menerima bahan kaus tidak sesuai pesanan. Tertipu pun mereka pernah. “Sedih, tetapi kami maju terus. Mungkin karena masih muda jadi tidak terlalu memikirkan kesialan itu berlarut-larut,” kata Nicholas enteng.

Kini, Monstore yang memiliki toko di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta, setiap hari meluncurkan produk dengan desain baru. Mereka juga menjual produk terbatas untuk ajang khusus, yang tak akan pernah mereka buat dan jual lagi. “Saya yang bertanggung jawab soal desain,” kata Michael.

Soal tertipu juga pernah dialami trio Audrio Susanto, Randhi Pratama, dan Osky Carnelius yang mendirikan bisnis celana jins merek Aye and Co. Sebagai modal, ketiganya mengeluarkan Rp 33 juta per orang. “Bagi saya yang mahasiswa perantauan, jumlah itu serasa seluruh hidup saya,” kata Randhi yang berasal dari Pekanbaru, Riau.

Modal mereka lumayan besar karena membuat celana jins tidak semurah membuat kaus T atau kerudung. Kembalikah modal sebesar itu? Dalam beberapa tahun, modal itu sama sekali tak kembali. Malah separuh dari produk awal mereka hanya menjadi barang promosi yang dibagikan gratis kepada teman-temannya.

Namun, setelah gigih berproduksi dan berpromosi, mereka akhirnya memetik hasil. Produk mereka dikenal dan dicari, baik di toko dunia nyata maupun di dunia maya. “Kami tetap memiliki toko di daerah Kelapa Gading. Setiap hari ada saja pelanggan baru yang datang. Ternyata, pembeli lebih percaya dengan toko daring yang memiliki toko untuk didatangi,” kata Audrio.

Ciri khas jins dan produk mereka adalah simbol segitiga. “Orang bilang itu simbol iluminati. Bagi kami, simbol itu juga bisa berarti mata yang melihat segalanya,” kata Osky.

Ada juga anak muda yang berbisnis karena ingin tantangan. Itu dijalani duo sejoli Yessi Kusumo dan Randi W Sastra. Hingga 2009, keduanya masih bekerja di biro arsitektur. Makanya, mereka dekat dengan urusan desain, seni grafis, dan interior.

Namun, belakangan mereka tertarik menjajal bisnis mode dengan merek Shopavelvet. “Kami senang saja mengerjakannya dan lebih senang lagi ketika orang lain menikmati karya dan koleksi kami,” kata Yessi.

Tak mudah menyerah

Tentang keuletan, kita bisa mengambil inspirasi dari Chris Inderayanto. Ia meninggalkan pekerjaan di Jakarta demi merintis bisnis pai apel, oleh-oleh khas Malang, Jawa Timur. Tahun 2010, ia ke Malang untuk meminjam ruko milik sang paman. Namun, ternyata ruko itu sudah dijual.

Malu balik ke Jakarta, Chris menetap di Malang dan mulai membuat pai apel Malang. Setelah lima tahun, baru dia menikmati ledakan penjualan produknya. Namun, kompetitor juga bermunculan. Bisnisnya menciut dan sebagian karyawan terpaksa dirumahkan.

Chris tak menyerah. “Saya sudah telanjur membesarkan pai apel seperti anak sendiri. Saya juga harus bertanggung jawab kepada karyawan,” katanya.

Semangat serupa ditunjukkan Lusiana Lumanau yang mengolah limbah benang berupa potongan sisi pinggir gulungan kain yang kusut. Limbah itu diperoleh dari pengepul limbah kaus. Semula limbah itu hanya diutak-atik sekadar untuk memuaskan hobi merajut sekaligus mengusir bosan.

Setelah melalui berbagai uji coba, Lusiana kemudian mengolah bahan itu untuk membuat rajutan karpet, tas laundri, keranjang, penutup pot, tas, dan dompet. Setiap produk dijual Rp 200.000-Rp 900.000, bergantung pada kesulitan dan ukuran.

Usahanya yang bermarkas di daerah Daan Mogot, Jakarta, itu pun berkembang. Bahkan, kini ia juga memberdayakan sejumlah ibu rumah tangga.

Mereka, wirausaha muda itu berbisnis dengan modal terbatas pernah rugi atau tertipu. Namun, kegigihan dan sikap pantang menyerah mengantar mereka pada tangga sukses.

Baik Monstore, Aye and Co, maupun Shopavelvet, misalnya, kini telah menembus Disney. Mereka bekerja sama dengan Disney dalam Disney Project Style untuk membuat cedera mata Disney dengan sasaran orang dewasa.

“Seperti mimpi menjadi kenyataan karena saya dari dulu suka Disney, mengenal karakternya. Kami dapat menunjukkan identitas dan keunikan kami masing-masing,” kata Yessi.

(TIA/OSA/*)