Suasana perbaikan Jalan Tol Palembang-Indralaya Kilometer 1+350 akses Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Minggu (18/6). Jalan Tol Palembang-Indralaya Kilometer 1+350 akses Pemulutan ambles sedalam 1,5 meter dan sepanjang 30 meter pada Sabtu (17/6) sekitar pukul 13.30. Saat ini, para pekerja berusaha 24 jam non stop secara bergantian untuk memperbaiki jalan itu agar bisa digunakan saat pengoperasian saat arus mudik Lebaran, Senin (19/6) ini.
Suasana perbaikan Jalan Tol Palembang-Indralaya Kilometer 1+350 akses Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Minggu (18/6). Jalan Tol Palembang-Indralaya Kilometer 1+350 akses Pemulutan ambles sedalam 1,5 meter dan sepanjang 30 meter pada Sabtu (17/6) sekitar pukul 13.30. Saat ini, para pekerja berusaha 24 jam non stop secara bergantian untuk memperbaiki jalan itu agar bisa digunakan saat pengoperasian saat arus mudik Lebaran, Senin (19/6) ini.

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah kembali mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan sepeda motor untuk mudik karena sangat rawan kecelakaan. Namun, pemerintah belum memiliki cara untuk mengurangi pemudik bersepeda motor yang terus bertambah setiap tahun.

Sebagian dari Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) sepanjang 21,5 kilometer   sudah selesai dibangun, seperti terlihat pada Minggu (18/6). Pembangunan jalan tol yang dimulai sejak 1996 ini terhenti sekitar 18 tahun dan dimulai kembali pada 2014 dengan biaya Rp 9,5 triliun. Penggunaan jalan tol ini secara fungsional untuk mudik  Lebaran 2017 akan diputuskan hari Senin ini.
Sebagian dari Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) sepanjang 21,5 kilometer sudah selesai dibangun, seperti terlihat pada Minggu (18/6). Pembangunan jalan tol yang dimulai sejak 1996 ini terhenti sekitar 18 tahun dan dimulai kembali pada 2014 dengan biaya Rp 9,5 triliun. Penggunaan jalan tol ini secara fungsional untuk mudik Lebaran 2017 akan diputuskan hari Senin ini.

“Kami kembali mengimbau, jangan menggunakan sepeda motor untuk mudik. Coba gunakan moda transportasi lain sebelum memilih motor,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada acara diskusi Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) bertajuk “Strategi Mengurai Arus Mudik dan Upaya Menekan Angka Kecelakaan”, yang didukung oleh PT ASDP dan Kompas, di gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta, Minggu (18/6).

Imbauan itu dikemukakan Budi karena berdasarkan data Korps Lalu Lintas Polri, pada periode Lebaran 2016, sekitar 70 persen kecelakaan dari total 2.900 kasus kecelakaan dialami oleh para pengguna sepeda motor.

Pada 2016, sepeda motor yang digunakan untuk mudik mencapai 5,13 juta unit. Jumlah itu diperkirakan naik 18 persen menjadi 6,06 juta unit pada musim Lebaran 2017. Bertambahnya pemudik bersepeda motor dikhawatirkan meningkatkan risiko kecelakaan.

“Sepeda motor tidak direkomendasikan untuk mudik karena tidak dirancang untuk bepergian jarak jauh. Pengemudi akan mengalami kelelahan di titik tertentu sehingga memicu kecelakaan,” kata Sigit Priyanto, pengamat transportasi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kompas yang melakukan perjalanan dengan sepeda motor dari Jakarta ke Cirebon mendapati kenyataan, pengendara mengalami kelelahan dan harus beristirahat setiap dua jam. Suhu yang panas, debu, angin, dan keharusan untuk fokus membuat pengendara cepat lelah.

Jalan yang bergelombang di sepanjang pantura karena lubang yang ditambal membuat perjalanan lebih berisiko bagi pengendara sepeda motor.

Suryanto, pemudik bersepeda motor asal Serpong, Tangerang Selatan, Banten, mengatakan, dirinya menyadari risiko kecelakaan yang tinggi saat mudik dengan sepeda motor. Risiko itu datang dari kondisi tubuh yang lelah, jalan yang buruk, dan pengendara kendaraan yang lain. Namun, sepeda motor tetap menjadi pilihan utama untuk pulang ke Kendal, Jawa Tengah.

“Ongkos pulang dengan sepeda motor jauh lebih murah jika dibandingkan dengan bus atau kereta api. Sepeda motor juga lebih mudah menghindari kemacetan dibandingkan bus. Jika pulang tanpa motor, saya tidak dapat berjalan-jalan bersama istri di desa,” kata Suryanto.

Pengamat transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan, jumlah pemudik bersepeda motor semakin besar karena ada beberapa masalah yang tidak terselesaikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Masalah pertama adalah kurangnya angkutan massal yang murah dari Jakarta ke sejumlah daerah di Jawa dan Sumatera.

Masalah kedua adalah sulit dan mahalnya tarif angkutan umum dari terminal atau stasiun ke desa yang menjadi tujuan pemudik. Jika ada, angkutan itu biasanya angkutan gelap berpelat hitam dan bertarif mahal.

Masalah berikutnya adalah ketiadaan angkutan pedesaan yang memudahkan pemudik untuk jalan-jalan di wilayah mereka.

Di sisi lain, program mudik gratis bagi pengguna sepeda motor hanya tersedia untuk 48.000 motor atau kurang dari 1 persen dibandingkan populasi pemudik bersepeda motor.

“Jika masalah-masalah itu tidak segera diselesaikan pemerintah pusat dan pemda, masalah pertambahan pemudik bersepeda motor tidak akan pernah dapat diatasi,” kata Djoko.

Budi Karya mengakui, masalah-masalah itu masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat dan daerah.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Royke Lumowa mengatakan, polisi juga tidak dapat melarang warga untuk mudik dengan sepeda motor karena tidak ada aturan hukum yang melandasinya. Polisi hanya dapat melarang penggunaan satu sepeda motor untuk lebih dari dua orang.

“Di jalan, polisi akan meminta pemudik mengurangi kecepatan dan menyarankan mereka untuk lebih sering beristirahat di area istirahat guna mengurangi risiko kecelakaan,” ujar Royke.

Jalan tol

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry Trisaputra Zuna menuturkan, keputusan dipakai atau tidaknya Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) sepanjang 21 kilometer secara fungsional selama Lebaran baru akan ditentukan Senin ini.

“Rapat Senin untuk melihat kesiapan dan memutuskan jalan tol itu dapat dipakai fungsional atau tidak,” ujar Herry.

Di Palembang, Sumatera Selatan, jalan tol fungsional Palembang-Indralaya Kilometer 1+350 ambles sepanjang 30 meter, Sabtu.

Direktur Utama PT Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra mengatakan, jalan yang ambles itu bukan badan jalan utama Tol Palembang-Indralaya, melainkan jalan akses menuju tol yang berada di simpang Pemulutan.

“Saat ini, kondisinya sudah stabil meskipun ada kemungkinan besok tanahnya akan turun lagi. Oleh karena itu, kami tetap berjaga. Yang penting untuk masyarakat bisa dipakai mudik Lebaran,” kata Putra.

Ia mengatakan, lokasi jalan ambles merupakan tanah gambut. Sebelum dibangun jalan tol, digunakan metode konsolidasi vakum. Namun, pada titik itu tidak dilakukan vakum karena adanya kabel saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang mengganggu pemasangan alat vertical drain dengan crane.

(ECA/DRI/BKY/NAD/D15)[kompas-video src=”https://play-kompasvideo.streaming.mediaservices.windows.net/89a20504-12d4-4e6f-a2af-3c3504af3ab4/62c3bcf5-4b43-4313-b674-4ea1d716057e.ism/manifest(format=m3u8-aapl-v3)” caption=”Meski mengandung risiko tinggi, tak sedikit pemudik pulang ke kampung halaman dengan menggunakan motor. Sebetulnya, ada cara lain yang bisa dipilih yaitu dengan mengikuti mudik gratis yang digelar pemerintah. Dengan cara ini, motor bisa tetap dibawa. Keselamatan pun lebih terjamin.” credit=”KOMPASTV” cover_src=”https://azk-cdn-audio-kompas.azureedge.net/getattachment/f7b0103a-276a-4c62-8a1f-90a7c6310c99/440186″ /]