Ruangan bernuansa coklat dengan banyak furnitur kayu itu dipenuhi tumpukan kardus berisi berkas perkara. Berkas itu disusun hingga menutupi rak buku, bahkan ada yang ditumpuk di balik pintu. Sang pemilik ruangan, seorang hakim konstitusi, sesekali mengusap matanya yang basah. ”Maaf, mata saya [...]
Untuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket Kompas Digital Premium atau login jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses bebas ke semua Berita Bebas Akses