Untuk apa lagi kau pandangi sembilan biji nangka di tadah cangkir itu? Seharusnya sudah kau buang ketika baru berjumlah empat biji, tanpa perlu ditambahi tiap bulan purnama demi menghitung usia janin yang telah tiada. Perutmu sudah kempis. Janin yang sempat mukim di sana, yang seharusnya kini [...]
Untuk dapat mengakses konten ini, silakan berlangganan paket Kompas Digital Premium atau login jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses bebas ke semua Berita Bebas Akses