Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus

Cerpen  ·

Dia duduk mencangkung di pelataran kamp itu. Bersama puluhan tahanan lain. Menunggu pembebasan. Bersandal jepit. Angin dan terik matahari menyentakkan debu ke mukanya. Dia tak peduli. Di antara pahanya, terapit buntalan sarung pelekat yang...

Sepasang Matryoshka

Cerpen  ·

Melalui kotak pesan daring Anna mengonfirmasi ia akan datang dua pekan lagi, yang berarti hari ini. Tidak perlu menyiapkan apa-apa, aku adalah bagian dari keluarga, bukan tamu istimewa, tulisnya gede rasa. Memang dikiranya aku akan...

Lelaki yang Menderita bila Dipuji

Cerpen  ·

Mardanu seperti kebanyakan lelaki, senang bila dipuji. Tetapi akhir-akhir ini dia merasa risi bahkan seperti terbebani. Pujian yang menurut Mardanu kurang beralasan sering diterimanya. Ketika bertemu teman-teman untuk mengambil uang...

Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat

Cerpen  ·

Tidak mudah membedakan rintihan kesakitan dan erangan kematian. Apalagi dalam ruang  gawat darurat yang dipenuhi pasien-pasien kritis. Mendengarkan rintihan sambil menahan sakit tentu lebih susah. Terlebih lagi jika badan tidak bisa...

Kematian Kedua

Cerpen  ·

Lelaki tua itu akhirnya benar-benar meninggal dunia. Jenazahnya ditutupi kain hitam dan diletakkan di atas tikar daun lontar di ruang tengah rumahnya. Sebuah rumah panggung suku Kajang. Orang-orang bersedih melayat mayatnya. Menyingkap...

Amnesti

Cerpen  ·

Di zaman baheula, ada seorang bromocorah yang divonis hukuman mati. Ulahnya membunuh, menjarah, menyiksa, sangat biadab. Seluruh warga mengutuk dan berdoa supaya bajingan itu cepat mati. Dia dianggap iblis yang memberi isyarat hari kiamat...

Cara-cara Klise Berumah Tangga

Cerpen  ·

Malam itu ia mampir ke kios bunga. Tiga blok ke arah timur dari Stasiun Shin-koenji. Tiga tangkai shiragiku, katanya. Lelaki itu meminta krisan putih. Ia telah merencanakan segala sesuatunya. Sembilan Agustus 2018. Krisan putih dan...

Sepotong Tulang dengan Daging Kering yang Menempel di Sisinya

Cerpen  ·

Kau tahu? Waktu itu, anak itu masih sangat kecil. Belum bisa bilang mama-papa, dan seharusnya baru bisa bilang ”abaabaaba” walaupun sepanjang aku di sana ia tak pernah mengeluarkan suara atau lebih tepatnya suaranya tak mau keluar....

Cerpen : Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Cerpen  ·

*Cerpen ini sebelumnya telah dimuat di Kompas Minggu, 15 Februari 1998, halaman 17. Dimuat ulang sebagai penghormatan pada dedikasi Hamsad Rangkuti pada dunia sastra. "Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?" Dia berpaling ke...

Baruna

Cerpen  ·

Terlahir sebagai seorang buta tidaklah begitu buruk. Setidaknya bagiku. Aku masih bisa merasakan hangatnya sinar mentari di permukaan kulitku, juga masih mampu meminta tambah untuk setiap masakan Simbok. Aku tak terlalu menderita. Selama...