logo Kompas.ID

Sastra

Sastra
bebas akses

Kamar Mayat

Sastra·

Kau tak berkata-kata, hanya menunggu. Petugas kamar jenazah ini terlihat menyebalkan di matamu, dia seolah mengulur waktu dan berusaha menikmati ketegangan, kecemasan, ketakutan dan berbagai rasa berkecambah di wajahmu.

Saat Bertemu Suamiku

Sastra·

Kematian kerap menyiratkan tanda dan misterinya. Ini kisah seorang istri saat bertemu suaminya, yang baru saja meninggal.

bebas akses

Bulan

Sastra·

Tapi di depan Bapa Selem, ia tidak mau menyebut nama lengkapnya. Meskipun orang-orang bilang, Bapa Selem tahu segalanya, bahkan tanpa kau perlu menyebut satu kata pun dari maksud kedatanganmu.

Selimut

Sastra·

Walau aku tidak terlalu paham dengan kalimat Ibu, setidaknya aku tidak lagi mau membuat tangis Ibu pecah. Ibu adalah selimutku, Ibu adalah segalanya bagiku.

Kasih Bunda di Rimba Duka, Rindu Anak Sepanjang Kelana

Sastra·

Perempuan muda itu belum pernah menjadi ibu dan belum siap mengasuh anak waktu. Maka ketika muncul bisikan dari lain pikiran, ia buang daging segar yang baru keluar dari perutnya yang buncit berbulan-bulan.

Warangka Excalibur Arthur

Sastra·

Tebakan Merlin tentang apa yang kupikirkan memang tidak salah, tapi sekali lagi, sebenarnya ada satu hal penting yang membuatku tidak lantas menyerahkan ”excalibur”-ku.

Penjual Kematian

Sastra·

Lagi-lagi Redo hanya bisa merasakan bahwa telapak tangan dan rahangnya mengeras. Ia berderak. Menahan kata-kata yang hendak muntah berserak.

Sendiri-sendiri

Sastra·

Perjalanan dari kamarku di lantai 12 hingga lantai dasar tempat ruang laundry berada, menjadi perjalanan yang terasa begitu jauh dan penuh dengan segala kemungkinan.

Di Restoran

Sastra·

Makanan yang kami pesan pun datang. Seperti biasa, yang aku pesan tidak secantik namanya, tidak semahal harganya.

Buih

Sastra·

Menjelang senja, setelah kembali ke kamar hotel bersama ibunya, Ningsih kembali ingin melihat Monas dari ambang jendela. Ditatapnya sekitar Monas, tak ada lagi buih.

Halaman 1