logo Kompas.ID

Sastra

Sastra

Menyaksikan Sunyi

Sastra·

Sejak dia bisa mengingat, dia belum pernah menyaksikan siang atau malam. Dia mengenali itu semua dari pembicaraan manusia lain, yang selain menyentuh perasaannya, juga kulit di sekujur tubuhnya.

Blenduk

Sastra·

Aku mengelus perut yang makin buncit, membayangkannya sebagai Blenduk yang sangat akrab dengan kami. Ialah arsitek kubah blenduk pada perutku

bebas akses

Warna Senja

Sastra·

Suamiku sangatlah baik padaku. Tentu saja. Ia hanya mulai sering terlambat menyediakan stok warna senja gara-gara aku yang terlalu cepat melukis

Sepasang Mata dan Tato untuk Seorang Perempuan

Sastra·

Tahukah dirimu bagaimana rasanya sakit tertusuk jarum saat membuat tato?

Perempuan Ikan Asin

Sastra·

Rasa asin tidak mereka jumpai di laut, di pasir pantai, atau di karang-karang hitam nan tajam. Rasa asin tidak mereka temukan di buku-buku dan sandal-sandal.

Koneng, Seorang Gadis, Seekor Anjing

Sastra·

Sepasang mata Koneng semerah semburan air ludahnya yang disemburkan ke sudut dinding pangkeng.

Promo: Beli Satu, Gratis Satu

Sastra·

Tujuh hari sudah widuri ditanam dalam tanah, tapi aromanya masih beterbangan sepenjuru rumah. Di kaca jendela, bersama aroma pembersih kaca, di depan kulkas bercampur sisa-sisa ikan peda, di sobekan catatan belanja,

Pertemuan 17 Tahun Kemudian

Sastra·

Aku sadar, akhir hubunganmu dengan seseorang belum lama terjadi, maka mungkin tak bisa selekasnya kau buka lagi pintu hati. Namun, aku tak ingin melihatmu larut dalam duka.

Humor tentang Tembakan-tembakan

Sastra·

Pajenong sedang memakai deodoran di depan cermin, sambil mendengarkan pembawa berita di TV berbicara tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan.

Tujuh Hari Meninggalnya Nenek

Sastra·

Tanah nenek kelak akan dibagi sesuai hukum agama tentang pewarisan tanah kepada lima orang anaknya, termasuk ibu. Pakde Efri anak tertua, sedangkan ibu anak nomor empat.

Halaman 1